Menakar LGBT secara Adil dan Manusiawi

www.stopbullying.gov
http://www.stopbullying.gov

Isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, Transeksual) marak sekali belakangan ini. Terutama setelah undang-undang perkawinan sejenis dilegalkan di Amerika Serikat. Perkara ini sakjane bukan hal baru. Tahan dulu hasrat anda sebelum memutuskan untuk mendukung ataupun menghujat kaum LGBT hanya karena legalisasi nikah sejenis di Amerika. Jangan buru-buru reaktif. Mendukung karena hanya ingin dianggap humanis dan membela hak asasi manusia sama saja dengan omong kosong. Ada baiknya kita pelesir sejenak untuk melakukan pengembaraan historis, saintifik dan filosofis untuk menyikapi hal ini. TIdak perlu terlalu detil. Cukup ambil fakta penting untuk menyusun argumen lalu menentukan sikap kita.

Dalam kitab-kitab agama samawi dikisahkan tentang PERILAKU seksual yang menyimpang dari umat Nabi Luth. Perilaku berbeda dengan orientasi seksual. Orientasi seksual seseorang tidak meniscayakan perilaku yang sama dengan orientasinya. Ada orang yang merasa terlalu cantik untuk jadi laki-laki. Perilakunya seperti perempuan. Tapi belum tentu dia penyuka sesama jenis. Ada juga yang merasa terlalu gagah jadi perempuan. Dalam ilmu psikologi, ada istilah Body Dysmorphic Disorder (BDD). Sebagian perubahan orientasi seksual disebabkan oleh BDD – karena ketidakpuasan terhadap kondisi fisik. Salah satu tema penting dalam kajian psikologi adalah jiwa. Psikologi saintifik dan metafisik sama-sama membahasnya. Bagaimana manusia dapat disebut sebagai laki-laki atau perempuan? Apakah karena fisiknya atau karena jiwanya? Samakah jiwa laki-laki dan perempuan?

Perlu kita perhatikan, seks itu berbeda dengan gender. Seks bersifat biologis sedangkan gender bersifat sosial dan kultural. Kalau kata teman saya, gender itu socially constructed. Sebagian besar masyarakat di Indonesia memandang anda tidak cocok melakukan pekerjaan laki-laki jika anda adalah perempuan. Dari sinilah para pejuang kesetaraan gender bermunculan. Penting juga untuk membedakan homoseks, gay, orang yang berlagak banci dengan tujuan komersil, dan transeksual. Homoseksual adalah terminologi ilmiah untuk orang yang memiliki kecenderungan melakukan hubungan seks sejenis, baik sesama laki-laki ataupun sesama perempuan. Gay dan lesbian adalah istilah populernya. Sedangkan transeksual adalah istilah ilmiah bagi orang yang mengganti jenis kelaminnya melalui operasi.

Tidak seperti kaum gay dan lesbian, orang-orang transeksual justru mengkonfirmasi heteroseksualitas via ganti kelamin. Mereka berupaya menyesuaikan orientasi seksual dengan perilakunya. Ini tidak menafikan orang transeksual yang melakukan hubungan sejenis. Di Iran, negara memfasilitasi warganya untuk ganti kelamin via operasi. Namun fasilitas ini tidak didapat dengan mudah. Harus ada bukti secara medis. Pernikahan pun tetap dilakukan antara laki-laki dan perempuan.

Secara filosofis, hubungan laki-laki dan perempuan adalah hubungan mutual afirmatif, interdependen. Seperti hubungan antara atas dan bawah. Tanpa atas, tidak ada bawah. Tak ada laki-laki bila tak ada perempuan. Substansi laki-laki mesti ber-relasi dengan perempuan dan sebaliknya dalam konsep dan realitas. Dari fungsi primer kelaminnya, laki-laki berperan sebagai “pemberi” sedangkan perempuan berperan sebagai “penerima”. “Pemberi” hanya bisa tegak dalam konsep dan realitas dengan “penerima”. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, hubungan sesama “pemberi” dan sesama “penerima” adalah hubungan yang absurd. Pada kenyataannya, dalam hubungan homoseksual dan biseksual, salah satu pasangan memfungsikan tubuh dan alat kelaminnya sebagai “pemberi”, sedangkan yang lainnya sebagai “penerima”. Ada juga yang memaksakannya dengan menggunakan alat bantu. Perilaku ini justru mengkonfirmasi nature heteroseksualitas. Tanpa argumen agama dan norma sosial, kawin sejenis “dilarang” oleh rasio dan logika.

Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, homoseksualitas terbentuk karena dua sebab utama. Pertama karena kehendak sendiri. Bisa berawal dari iseng, pergaulan, bahkan pelarian. Yang kedua karena faktor-faktor di luar kehendak. Mereka perlu diberi jalan keluar yang logis, etis dan relijius, bukannya dicemooh atau malah dibantai. Dukungan terhadap kaum LGBT mewabah karena sikap mayoritas masyarakat dunia yang memandang LGBT itu hina. Bahkan ada yang menganggap kaum LGBT tidak layak hidup.

Lacurnya, sebagian kasus homoseskual malah terjadi di lingkungan relijius seperti pesantren. Miris sekaligus ironis. Lingkungan keagamaan yang idealnya memupuk akhlak dan moralitas justru menjadi arena jungkir balik moral. Sebagai muslim, menurut saya ada doktrin salah-kaprah tentang seks yang harus segera disikapi oleh umat Islam di Indonesia.

Agama kita terlanjur ditampilkan sebagai doktrin yang menganggap semua komunikasi dan interaksi pria-wanita sebagai sesuatu yang negatif. Dalam interaksi tersebut, baik pria maupun wanita diposisikan sebagai tersangka bersalah. Fokus hanya tertuju pada interaksi beda jenis. Karena hanya memperketat hubungan beda jenis, yang terjadi adalah respon yang salah terhadap stimulus sesama jenis. Baik sesama pria maupun sesama wanita. Kesalehan tidak diukur dari matinya respon terhadap stimulus objektif dari lawan jenis. Kesalehan lahir dari keteguhan dalam mengelola dan mengendalikan respon tersebut supaya tetap normal.

Disorientasi seksual sering terjadi karena pengabaian pubertas dan anggapan ekstrem tentang respon biologis anak terhadap lawan jenis sebagai hal negatif. Orang tua wajib punya wawasan tentang biologi dan gender. Mereka harus waspada sejak dini terhadap pubertas anak serta pola respon anak terhadap sesama jenis dan lawan jenis.

Barangkali transeksual bisa dijadikan solusi bagi mereka yang ingin mengukuhkan identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan. Misal ada seorang pria gay. Pada suatu waktu ia merasa dirinya adalah perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Terjadi disharmoni antara fisik dan jiwanya. Ia ingin mengganti kelaminnya. Jika secara medis (entah dari kromosom maupun bukti lainnya) ia terbukti memenuhi syarat untuk ganti kelamin, seharusnya ia boleh mengganti kelaminnya. Ia tidak layak lagi disebut gay.

Indonesia mungkin tidak bisa seperti Iran. Meski Indonesia dan Iran sama-sama menggunakan sistem demokrasi, penerapannya jelas berbeda. Di Iran, undang-undangnya berlandaskan agama Islam. Pengesahannya selalu melalui referendum dan tidak pernah disahkan secara sepihak oleh elit. Sedangkan di Indonesia, beragam corak faham, argumen dan kepentingan politis saling beradu di lembaga legislasi untuk menelurkan undang-undang. Tidak jarang adu argumen tersebut berujung pada adu jotos. Para elit di Indonesia jarang mau turun ke level akar rumput untuk melihat langsung dan memahami masalah rakyat serta mendengar aspirasi mereka. Undang-undang seharusnya menjadi patokan untuk mewujudkan ketertiban sosial.

Kalau negara mengatur ranah publik dan sosial melalui konstitusi, agama memegang peranan penting pada area privat. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, para teolog, ahli fikih, pakar psikologi, biologi, dan sosiologi di Indonesia perlu membahas isu ini. Opsi transeksual atau ganti kelamin perlu dikaji secara komprehensif oleh ahli-ahli yang berkompeten, bukan hanya agamawan, supaya bisa melahirkan hukum yang adil, relevan dan manusiawi.

Filsafat Hikmah: Sebuah Catatan Kaki tentang Filsafat Islam

Sekarang, orang makin tertarik mendalami filsafat. Ada begitu banyak orang yang sudah membaca ratusan buku filsafat. Mereka menghapal banyak istilah filsafat. Mereka tahu banyak tokoh filsafat. Tapi cara berpikirnya sama sekali tidak filosofis. Orang seperti ini jelas tidak layak disebut filosof. Informasi yang ia kemukakan bersifat ensiklopedis, bukan filosofis. Kita mengakui seseorang sebagai filosof karena cara berpikirnya yang filosofis, bukan karena tumpukan istilah filsafat yang kekar-kekar dalam ujarannya. Bahkan karena polemik istilah-istilah dalam filsafat, banyak orang yang menganggap filsafat itu ribet, elitis, angker dan terkesan horror. Filsafat adalah tentang kebijaksanaan, yang dalam terminologi Islam disebut sebagai ‘hikmah’. Hikmah itu simple, sederhana. Filsafat bertujuan mengabstraksi, melucuti semua status, atribut, predikat dan segala keruwetan. Makin sederhana maka makin dekat dengan filsafat. Makin njlimet justru makin jauh dari filsafat. Modalnya adalah berpikir logis. Modal ini sudah ter-install dalam diri manusia. Islam menyebutnya sebagai fithrah.

Lalu, setelah melucuti segala keruwetan, apa yang ditemui oleh filsafat? Apa yang hendak dicari oleh filsafat? Filsafat dalam Islam tidak seperti filsafat Barat yang kini ter-reduksi menjadi sekedar bahasan-bahasan esensial yang rasional. Di Barat, orang membahas moral atau etika secara rasional bisa disebut filosof. Filsafat Islam, sebagaimana pengertian klasiknya, dimulai dan beranjak, bahkan berputar di sekitar suatu konsep yang namanya ‘Wujud’ atau eksistensi (ontologi). Konsep yang namanya ‘Wujud’ ini badihi atau self-evident; suatu konsep yang benar dengan sendirinya. Tak perlu ada penjelasan dan tak bisa ada penjelas yang bisa menjelaskan ‘Wujud’. Sebagian orang mungkin akan kebingungan ketika membaca buku filsafat dengan mengajukan pertanyaan, “Ini argumennya mana?” Mereka berpikir bahwa penjelasan filsafat itu seperti fisika, atau dengan model matematika. Dalam filsafat, yang diperlukan bukanlah pembuktian. Tema-tema filsafat itu terbukti benar dengan sendirinya dan akal tak bisa mengingkarinya. Kalau akal mengingkari itu, gugurlah semua produk-produk akal.

Filsafat itu exactly the opposite of jahiliyyah. Jahiliyyah bukan kebodohan, tapi bodohisme; mazhab pemikiran yang mengagungkan kebodohan dan menjadikannya prinsip dalam hidup. Boleh jadi kita mengakui bahwa diri kita itu bodoh. Saya mengakui diri saya bodoh. Dan itu tidak mengganggu saya. Tapi menyembah kebodohan itu penyakit yang sangat berbahaya dan mengganggu. Terapinya adalah dengan terobosan-terobosan filosofis, berupa dorongan akal untuk mencari mana yang hakiki, mana yang palsu; mana yang realitas, mana yang waham.

Karena filsafat hendak mencari hakikat, maka ia adalah suatu aktivitas yang tak berujung. Kenapa? Batas akhir dari kebenaran atau hakikat itu adalah loose end. Hakikat tidak ada ujungnya. Siapa yang sudah pernah sampai di ujungnya hakikat? Kalau kita menilik sejarah filsafat, terutama perjalanan filsafat Islam, mungkin di satu sisi kita akan tersenyum, di sisi lain kita kebingungan. Sebetulnya, yang dipakai itu akal, intuisi, kebersihan hati, atau semuanya? Bahkan jika manusia menggunakan semuanya, ternyata ujung hakikat ini tetap tidak akan mampu dicapai. Maksimal yang bisa dilakukan adalah menghampiri atau mendekati hakikat.

Kita bisa mengamati perjalanan seorang Ibnu Sina sebagai contoh. Menurut saya, Ibnu Sina adalah filosof Peripatetik (masyya’iyyah) yang paling rasionalis. Ia adalah orang yang paling mengandalkan akal dalam upaya menempuh perjalanan menuju hakikat. Dan metode akal, seperti yang kita ketahui, adalah abstraksi, analisis; suatu konsep akan dikuliti sampai ketemu apa yang mereka sebut sebagai ‘esensi’ sesuatu. Tapi Ibnu Sina sendiri, dalam buku-buku logika dan filsafatnya, mengakui bahwa yang disebut dengan ta’rif tam atau ‘definisi sempurna’, yaitu suatu definisi yang bisa menemukan pembeda dan esensi sesuatu, itu tidak ada. Artinya, Ibnu Sina mengakui bahwa perjalanan rasional tidak pernah sampai kepada hakikat. Oleh sebab itu juga, pada akhir hayatnya, Ibnu Sina mengubah perjalanan rasionalnya menjadi perjalanan mistik. Ia menjadi orang yang lebih spiritualis daripada masa mudanya. Ia lebih banyak mengisi sisi-sisi ruhaninya. Kita tahu seorang Ibnu Sina dengan kecerdasannya, kejeniusannya dan produktivitasnya di bidang keilmuan, terutama logika dan filsafat, ternyata mentok pada suatu kesimpulan bahwa hakikat tidak bisa dicapai dengan sarana rasional. Tapi ini tidak berarti Ibnu Sina menentang rasionalis. Di sinilah bedanya Ibnu Sina dengan orang-orang yang sok bertasawuf, yaitu orang-orang yang sejak awal sudah cenderung menolak rasionalitas. Dalam perjalanan menuju hakikat, Ibnu Sina membetot rasionalitas sampai pada batas elastisitasnya. Pada titik akhir elastisitas rasionya, ia mengakhiri betotan tersebut karena takut rasionalitasnya putus. Kemudian ia bergerak dengan sarana yang lain. Kita layak melayangkan protes pada orang-orang yang sok mengadili filsafat dan menganggap filsafat lebih rendah dari apa yang mereka capai (yang mereka duga sebagai tasawuf). Padahal, tidak akan pernah sampai kepada tahap tasawuf orang yang tidak menggunakan kapasitas intelektualnya secara tuntas. Ini adalah kesepakatan para filosof muslim sepanjang sejarah.

Nyaris menjadi bahan tertawaan orang seandainya ada yang mengatakan, “tinggalkanlah logika dan filsafat, langsunglah masuk ke masalah hati, rasa dan lain sebagainya.” Ini hanya pernyataan dari sufi gadungan yang malas berpikir. Pakai dulu akalnya. Nanti akal akan sampai pada titik akhir elastisitasnya, dan akal akan menuntun kita untuk memakai sarana lain yang membantu kita menempuh perjalanan menuju hakikat. Oleh karena itu, filosof-filosof agung seperti Ibnu Sina, dan Syaikh al-Isyraq (Suhrawardi), setelah melalui kegelisahan pikiran dan batin yang luar biasa menyiksa, sampai kepada isyraq-nya.

Sebagai akibat dari karakter filsafat yang demikian, filsafat selalu mengalami ketegangan dengan bahasa. Ia selalu bermasalah dengan bahasa. Karena filsafat berpretensi membahas ‘Wujud’; suatu konsep yang saking jelasnya, tidak bisa lagi dijelaskan. Sesuatu yang tidak bisa lagi dijelaskan, bagaimana mau dijelaskan dengan bahasa? Di sinilah awal ketegangan antara filosof dan ahli bahasa. Jika kita membaca buku-buku filsafat, para filosof sering menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan atau proposisi-proposisi yang mereka gunakan dalam menjelaskan konsep-konsep itu besifat kompromistis (tasâmuhan, tajâwuzan, atau majâz). Bahasa tidak menyediakan tempat untuk membahas sesuatu yang disebut sebagai ‘Wujud’. Karena itu, akhirnya akal kita ‘menciptakan’ konsep mahiyyah (quiditas, esensi, keapaan) dalam rangka menjelaskan ‘Wujud’. Mahiyyah adalah santiran wujud yang ada di dalam benak kita. Ia bukanlah ‘Wujud’, tetapi pengertian kita tentang ‘Wujud’. Mahiyyah tidak riil. Sebagai cerminan, ia hanyalah sesuatu yang semu dan berbeda dengan objek yang dicerminkannya. Wujud tak bisa langsung dipahami dan tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan ‘Wujud’. Bagaimana menjelaskan diri? Sesuatu yang kita sadari dengan jelas namun sulit untuk dijelaskan atau dikonsepsikan. Diri justru melahirkan konsep-konsep melalui korespendensi dengan segala sesuatu selainnya. Dengan mencerminkan diri, kita akan melihat pantulannya. Kita mendapatkan gambaran diri. Gambaran inilah yang disebut mahiyyah. ‘Wujud’-nya adalah diri kita. Uniknya, gara-gara mahiyyah yang semu ini barulah kita bisa memahami ‘Wujud’. Atau dalam ungkapan yang lebih ringkas, kita memahami ‘Ada’ dengan ‘apa’.

‘Wujud’ dan mahiyyah bukan dua hal yang terpisah. Kebutuhan kita pada mahiyyah bukan pada mahiyyah-nya, tapi karena kita mau melihat ‘Wujud’. Tidak mungkin kita bisa langsung melihat ‘Wujud’ karena saking terangnya ‘Wujud’ itu, kata Sabzawari. Kalau mau dipahami dengan akal, akal menjadi silau. Kita mesti mencari pembanding. Inilah yang disebut dengan i’tibar; menciptakan atau mengkreasikan sesuatu sebagai pembanding, dalam hal ini adalah mahiyyah. Mahiyyah ini memang datangnya dari provokasi akal yang bertanya: “Apa itu?” Dan jawaban atas pertanyaan ini adalah jawaban antara, bukan jawaban sebenarnya. Karena jawaban sebenarnya dari ‘Wujud’ adalah kehadiran ‘Wujud’ itu sendiri. Kehadiran ‘Wujud’ tidak bisa dianggap sebagai suatu pengalaman bahasa. Ia tidak bisa diekspresikan ke dalam bentuk kata-kata. Misalnya, untuk menjelaskan manisnya madu, orang harus merasakan madu tersebut. Bisakah kita menjelaskan manisnya madu tersebut? Bisa saja. Tapi sehebat apa pun penjelasan kita tentang manisnya madu yang kita minum tetaplah itu bukan aslinya madu. Penjelasan kita hanyalah gambarannya.

Allamah Thabathaba’i, ketika menjelaskan apa pun yang berkaitan dengan filsafat, beliau mengatakan: “Lantaran ‘Wujud’ ini sesuatu (konsep) yang paling umum, maka seluruh predikat yang disandangnya adalah berasal dari dirinya sendiri. Seperti pernyatan: “Semua maujud qua maujud adalah satu dan aktual.” Yang satu dan aktual itu adalah predikat dari ‘Wujud’. Semua yang maujud secara eksternal adalah satu dan aktual.”

Jadi, tidak mungkin ada kata yang lebih umum dari ‘Wujud’ sehingga dapat merangkum ‘Wujud’ di dalamnya. Semuanya, kalau tidak berasal dari ‘Wujud’, adalah bagian darinya, atau lebih khusus darinya. Tidak mungkin ada predikat di luar ‘Wujud’. Misalnya, pernyataan: “Kausa itu adalah sesuatu yang maujud.” Meski kausa itu lebih khusus dari ‘Wujud’, tetapi kausa bukanlah aspek yang berada di luar ‘Wujud’. Jika tidak demikian, gugurlah asumsinya sebagai kausa. Kalau kita mau menjelaskan kausalitas, maka kita tidak bisa keluar dari melihat ‘Wujud’ sebagai ‘Wujud’. Dengan melihat ‘Wujud’ sebagai ‘Wujud’, kita akan bisa mengambil predikat. Bahwa, ada maujud yang berpredikat sebagai kausa, ada maujud yang berpredikat sebagai efek. Sebagian besar tema atau masalah filsafat (ontologi) berpijak pada klasifikasi. Subjek yang diklasifikasikan adalah ‘Wujud’. Bagian-bagiannya adalah predikat-predikat, keadaan-keadaan, prinsip-prinsip atau sifat-sifat dari ‘Wujud’ itu sendiri, bukan sesuatu di luar ‘Wujud’. Yang di luar ‘Wujud’ hanyalah mahiyyah. Tapi mahiyyah ini pun bukan sesuatu yang ada. Karena tidak ada sesuatu di luar ‘Wujud’. Yang ada hanyalah ‘Wujud’. Mahiyyah bersifat i’tibari. Ia hanya jembatan yang diciptakan akal untuk menuju kepada ‘Wujud’.

Dengan mendalami filsafat, implikasi yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran eksistensial. Selama ini kita terlalu sibuk dengan mahiyyah. Perhatian kita tersita oleh ‘penampakan’ atau cermin ‘Wujud’ (realitas). Kita terbiasa memandang segala sesuatu secara empiris dan positivistik sedemikian sehingga memunculkan anggapan bahwa yang riil hanyalah yang bisa diempiris. Kita menyangka bahwa realitas atau yang ada itu adalah segenap sensasi dan citra yang tertayang dalam benak. Selain sensasi dan citra tersebut, it doesn’t matter! Sedemikian pentingnya kedudukan materi sebagai satu-satunya kenyataan, sehingga kita menyebut selainnya adalah “bukan materi”.

Kini, tugas utama para filosof adalah menghadirkan cara pandang alternatif untuk mengatasi kegagalan pandangan dunia materialisme dalam mengatasi berbagai permasalahan. Memang bukan hal yang mudah. Karena dengan menganggap materialisme sebagai produk gagal, kita mesti mendekonstruksinya. Kita mesti meruntuhkan mazhab pemikiran yang selama ini terlanjur dipegang teguh. Artinya, kita akan berhadapan dengan hegemoni yang telah lama mencengkram dunia pemikiran dan tindakan manusia.

Kado Idul Fitri

sumber: beggal.heck.in
sumber gambar: beggal.heck.in

Bulan suci Ramadhan telah usai. Meski telah berlalu, sampai sekarang saya masih terbawa suasana puasa. Ketika melihat sekelompok orang makan bersama di warung menjelang bedug maghrib, saya mengira mereka sedang buber (buka puasa bersama). Berkat bulan Ramadhan, orang terarah untuk melakukan hal-hal yang baik lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan ini selalu punya pengaruh positif. Ia senantiasa dinantikan oleh setiap orang, tidak hanya umat Islam, terutama sekali karena budaya mudik, sungkeman atau halal bi halal, dan lebaran kupat yang asli made in Indonesia.

Bicara mengenai sungkeman atau bermaaf-maafan, tentu bisa dilakukan kapan saja. Melalui sungkeman, kita dianjurkan meminta maaf atas perbuatan yang mungkin melukai hati orang lain, meski kita tidak merasa bersalah. Meminta maaf kepada orang-orang terdekat yang sangat mungkin dizalimi, terutama istri, suami, anak, dan orangtua adalah prioritas. Konon tradisi ini diajarkan oleh wali sanga kepada masyarakat di tanah Jawa. Raja Amangkurat I yang bergelar pangeran Sambernyowo adalah salah satu tokoh yang pertama kali mengenalkan budaya sungkeman di kerajaan Mataram pada abad ke-16. Ketika itu, raja dan abdi keraton menggelar acara untuk saling memaafkan. Ternyata hal tersebut diikuti oleh masyarakat sekitar keraton dan membawa pengaruh positif.

Pada gilirannya, hal ini menjadi kebiasaan dan meluas ke seluruh penjuru tanah air. Kini, hampir semua lembaga, kantor dan institusi rutin mengadakan halal bi halal selepas hari raya Idul Fitri untuk mempererat silaturahmi. Budaya ini telah sedemikian mengakar kuat di masyarakat sehingga menjadi identitas bangsa kita, tanpa memandang suku, ras, dan agama. Gusdur menyebut proses ini sebagai pribumisasi Islam, dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama. Tak dapat kita pungkiri, pribumisasi Islam inilah yang membentuk karakter Islam Indonesia yang lembut dan kaya akan khazanah esoterisme.

Tuhan Maha Pemaaf

Benarkah Islam mengajarkan umatnya agar memelihara sifat pemaaf? ‘Ibn Arabi pernah menyampaikan tentang makna tasawuf yang berarti: “proses mengaktualkan potensi akhlak Allah yang ada di dalam diri kita, dan menjadikannya akhlak kita” (al-takhalluq bi akhlaq Allah). Apa yang diutarakan oleh ‘Ibnu Arabi ini erat kaitannya dengan gagasan tentang manusia dan alam semesta sebagai manifestasi (tajally) Allah SWT. Salah satu sifat Allah adalah al Afuww yang berarti Maha Pemaaf.

Jika membahas sifat Ilahi rasanya terlalu berjarak bagi manusia biasa seperti kita, mari kita retas jarak tersebut dengan meneladani akhlak Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menyatakan: “Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim.” Dr Muhammad Iqbal mengatakan, “Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah Zahir-nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat dan pertolongan) antara makhluk dengan Tuhannya. Kalau kita ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri kita, hadirkan Muhammad. Jika kita ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Seandainya kita ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian” (Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah). Muhammad saw adalah episentrum cinta, laguna kasih dan suluh Ilahi.

Menanamkan akhlak Allah identik dengan menanamkan sifat cinta kepada Rasulullah saw di dalam diri kita dan menjadikannya sumber bagi setiap tindakan kita, baik dalam berinteraksi dengan Allah, manusia, maupun alam semesta.

Memaknai Hari Raya Idul Fitri

Dalam sebuah tulisannya tentang Idul Fitri, Dr Haidar Bagir mengungkapkan bahwa kata fitrah berasal dari akar kata f-th-r, yang berarti ”keawalmulaan sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada.” Sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa preseden (contoh). Sinonimnya adalah al-khalq atau al-ibda’. Contohnya, air susu yang pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai fithr. Fitrah adalah unsur manusia yang diciptakan pertama kali. Unsur manusia ini, tak lain dan tak bukan terbentuk atas model sifat atau ”tabiat” – yakni fitrah – Allah sendiri.

Menurut para ulama, fitrah identik dengan Celupan Allah (Sibghah Allah).1 Dalam ayat lainnya, Celupan Allah ini identik dengan peniupan Ruh Allah dalam ciptaan manusia.2 Pada surat Al-Rum ayat 30, fitrah manusia bukan sekedar merupakan perwujudan ruh Allah, tapi ia juga identik dengan agama itu sendiri, tepatnya ”agama yang lurus”. Suatu pandangan-dunia (weltanschauung) dan cara hidup (way of life) yang benar, yang berorientasi keimanan kepada Allah Yang Mahaesa, dan kepada kebenaran – suatu cara hidup yang hanif. Inilah unsur pertama fitrah. 3

Unsur kedua fitrah adalah pengetahuan mengenai jalan kebaikan dan keburukan yang telah diilhamkan kepada manusia sejak awal penciptaannya. ”Dan demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka diilhamkan kepadanya jalan keburukan dan jalan ketakwaannya. Pasti berbahagia siapa saja yang memelihara kesuciannya, dan pasti sengsara siapa saja yang mengotorinya.” (al-Layl 92 : 7 – 10).

Selama fitrah kita belum tertutupi kotoran-kotoran akibat perbuatan-perbuatan buruk kita, kita selalu dapat mengandalkannya dalam menuntun hidup kita agar selalu berada di jalan kebaikan dan keimanan kepada-Nya. Dengan kata lain, fitrah – yang selalu ada dalam diri kita – itu akan memberikan tanda kepada kita jika kita berbuat baik, dalam bentuk ketenangan hati. Sebaliknya, kita akan merasa gelisah jika kita melakukan perbuatan buruk.

Idul Fitri disebut hari raya jika puasa dapat mengembalikan kendali jiwa atas nafsu kepada kita. Sebagai hasilnya, menjadikan kita orang yang bertakwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya hanya bisa kita lakukan jika kita memiliki kesadaran bahwa Allah ada dan selalu mengawasi kita, sehingga kita akan terus berupaya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat mendatangkan ridha-Nya, dan menghindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang dapat mendatangkan murka-Nya. Kata Imam ‘Ali, jika kita dapat menjalani setiap hari tanpa maksiat, maka setiap hari adalah hari raya.

Menjalani hari-hari tanpa maksiat bukanlah hal yang mudah. Bahkan dengan sikap hati-hati sekali pun kita bisa saja melakukan kesalahan. Apalagi kalau kita menjalani hidup ini secara serampangan. Meski pada awalnya nurani memberi indikasi perasaan bersalah dan tidak nyaman, kebiasaan buruk yang dilakukan terus menerus akan menutup akses kita kepada fitrah.

Nabi saw. bersabda : ”Dalam diri setiap orang ada segumpal organ (mudh-ghah). Jika baik organ ini, maka baiklah keseluruhan orang itu, dan jika buruk organ ini, maka buruklah keseluruhan orang itu. Organ itu adalah hati. Setiap kali orang beriman melakukan keburukan maka muncul bintik hitam di dalam hatinya. Dan makin sering dia berbuat keburukan, makin banyak bintik hitam di dalam hatinya.”

Jangan sampai kita terus membiarkan diri kita dikuasai oleh nafsu yang mendorong-dorong kita untuk berbuat keburukan (al-nafs al-ammarah bi al-su’), sehingga fitrah kita benar-benar tertutup dengan penyakit atau karat, seperti dikatakan dalam Al-Qur’an. Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang terkutuk, yang ”tuli, bisu, buta dan baginya tak ada jalan kembali.” (Al-Baqarah 2 : 18)

Memohon Maaf dan Taubat

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap perilaku yang merusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan maaf. Sikap yang kita ambil membawa konsekuensinya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa lari dari hukum kausalitas. Siapa pun yang pernah kita zalimi bisa saja memaafkan kita. Namun, “jejak” kezaliman tersebut tidak dapat hilang begitu saja setelah kita memohon maaf. Kalau kita serius meminta maaf, kita wajib menebus kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Disebutkan bahwa setiap usai perang, Nabi saw bertanya kepada pasukan, “Adakah yang terkena sikut atau pukulanku dan menuntut qishash (balas)? “

Seandainya kita merampas hak seseorang sehingga ia kesulitan menghidupi keluarganya, maka kita wajib mengembalikan hak orang tersebut dan membantunya mengatasi kesulitan yang timbul karena perbuatan kita yang telah merampas haknya. Penebusan kesalahan ini juga diungkapkan oleh Imam ‘Ali ketika menjabarkan makna istighfar sebagai inti taubat.

Mengakui kesalahan sulit dilakukan jika kita memelihara sifat ‘ujub dan jumawa. Puasa sejatinya mampu merontokkan dinding “keakuan”, mempreteli narsisisme akut dan melembutkan nurani kita. Kadang meminta maaf, dengan mengakui kesalahan, baik yang disadari atau tidak, lebih mulia dari memaafkan.

 

1 “Dan apakah yang lebih baik dari Celupan (Sibghah) Allah?” (Al-Baqarah 2 : 29).

2 ”Maka, ketika Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu (para malaikat) dengan bersujud” (Al-Hijr 15 : 29)

3 ”Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah. (Tetaplah atas) Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus … ” (Al-Rum 30 : 30)

 

 

 

 

Menyibak Kontroversi Islam Nusantara

http://transbonja.deviantart.com/
http://transbonja.deviantart.com/

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan tiga orang teman di sebuah warung kopi. Kami sudah janjian lewat whatsapp untuk ngobrol santai soal “Islam Nusantara”. Isu yang sedang hot ini timbul-tenggelam berbarengan dengan legalisasi nikah sesama jenis di Amerika Serikat. Belum lagi maraknya kasus-kasus amoral yang diberitakan oleh media televisi kita. Pada hari itu, kami hanya fokus membahas “Islam Nusantara” – selanjutnya disebut IsNus.

Dua dari tiga orang teman saya agak gelisah dengan kontroversi IsNus yang kadung meruyak, terutama di media sosial macam facebook dan twitter. Agar tulisan ini lebih enak dikunyah, saya akan memisahkan dua argumen yang saling bertolak belakang ini: antara penentang IsNus dan IsNus itu sendiri.

Argumen Penentang IsNus

Para penentang IsNus umumnya beranggapan IsNus adalah varian atau sekte baru yang menggoyang pokok utama akidah Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi. Mereka bertanya pada para pendukung IsNus, “Kalau begitu Nabi Muhammad saw, para sahabat serta para imam madzhab itu menjalankan Islam apa ya?” Bila dituruti kemauan adanya Islam Nusantara, menurut mereka, berarti akan ada Islam Melayu, Islam Filipino, Islam Singapura, Islam Hongkong, Islam China, Islam India, Islam Kambodja, Islam Amerika, Islam Jerman, Islam Jepang, dan Islam lain lain.

Karena IsNus dianggap sebagai varian atau sekte baru, pertanyaan selanjutnya adalah: tokoh panutannya siapa? Kitab panduan lengkapnya apa? Dibuat tokoh Nusantarakah? Kalau tidak ada, lalu apa arti ‘himbauan’ untuk menjalankan Islam Nusantara? Kata mereka, daripada bingung sendiri, alangkah baiknya kita ber-Islam saja…

Mengenal IsNus Lebih Dalam

Jika kita telusuri, penentangan terhadap IsNus banyak yang bersifat reaktif, cenderung ikut-ikutan dan tanpa dasar yang jelas. “Islam” adalah subjek, predikatnya adalah “Nusantara”. Kegagalan memahami hubungan subjek dan predikat adalah bukti adanya problem epistemik.

Islam Nusantara atau Islam Indonesia adalah komposisi subjek universal & predikat universal dengan relasi interseksi/irisan. Frase “Islam Nusantara” bisa berarti “Islam yang Nusantara” juga berarti “Islam(nya) Nusantara” atau “Islam di Nusantara”. Bila Islam dianggap sebagai ajaran, ia bersifat abstrak. Karena itu, ia harus bersanding dengan sesuatu yang konkret supaya bisa diamalkan. Islam sebagai ajaran diyakini sebagai iman (ideal) dan mesti diterapkan sebagai amal (aktual). Aktualisasi iman perlu ruang konkret.

Islam sebagai ajaran adalah wahyu. Islam yang bersanding dengan “Nusantara” adalah penafsiran kontekstualnya. Ini aksioma. IsNus tak memuja-muja Arab atau ras lain seolah identik dengan Islam, juga tak menghina Arab atau ras lain seakan identik dengan kenistaan. Islam Nusantara adalah Islam universal yang diamalkan secara lokal dengan kesadaran kolektif yang terbangun melalui akulturasi, adaptasi, dialog dan sebagainya. Mendukung Islam Nusantara tidak berarti membenci atau menafikan selain Nusantara, tapi justru menghargai beragam Islam lokal yang dibangun oleh bangsa-bangsa lain. Islam yang diterapkan kapan dan di manapun pasti bersanding dengan ruang dan waktu. Ia pasti beradaptasi dengan karakteristik masyarakat di setiap wilayah.

Pada kenyataannya, memang ada Islam Melayu, Islam Filipino, Islam Singapura, Islam Hongkong, Islam China, Islam India, Islam Kambodja, Islam Amerika, Islam Jerman, Islam Jepang, dan Islam lain lain. Sifat adaptatif Islam dengan kondisi yang berbeda-beda sebagai ajaran yang bisa diterapkan di setiap tempat dan waktu justru mengkonfirmasi universalitas Islam. Ayat-ayat suci Quran pun ditandai dengan karakteristik tempat dan waktu berupa kategori “Makkiyah” dan “Madaniyah“. Ini menegaskan keniscayaan konteks.

Islam Nusantara bukan sekte baru. Bukan pula soal “menusantarakan Islam” seolah Islam “kalah” oleh budaya seperti yang disangka oleh kebanyakan penentang IsNus. Islam Nusantara adalah Islam yang dimaknai secara kontekstual dan rasional oleh Muslim yang cinta Indonesia. Gagasan “Islam lokal” adalah manifestasi syukur kepada Tuhan atas karunia agama dan budaya sebagai peradaban manusia dengan keragamannya.

Revolusi Kesadaran

source: www.hotdog.hu
source: http://www.hotdog.hu

Saya masih ingat betul ketika ada teman semasa SD (Sekolah Dasar) yang tiba-tiba menghubungi saya lewat Blackberry Messenger (BBM), kira-kira awal tahun ini. Sampai sekarang pesan-pesan darinya belum saya hapus. Kurang lebih isinya seperti ini:

“Menurutmu, halal ngga ya membunuh orang Syiah? Mereka kan sudah merendahkan Rasul dan para Sahabat. Aku pengen ngerti, Dar. Aku juga pernah baca di grup fb (facebook). Di situ mereka dengan mudahnya menghina Nabi dan Sahabat dengan sebutan yang tidak pantas. Mungkin aku masih awam, Dar. Tapi jujur, aku kebawa emosi ketika ada orang yang menjelek-jelekan Nabi. Menurutmu gimana?”

Saya menjawab bahwa saya tidak punya kewenangan untuk memberi fatwa hukuman mati. Saya bukan mujtahid apalagi marja’ yang bisa dijadikan rujukkan dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan syariat dan hukum Islam. Saya menyampaikan padanya bahwa dahulu pernah ada kelompok Syiah yang mencaci dan menghina Sahabat, tapi itu hanya segelintir saja. Kalaupun sekarang muncul lagi orang-orang seperti itu, mereka hanya me-recycle kelakuan kelompok yang saya sebut sebelumnya. Kita harus hati-hati dalam menilai. Kalau ada sopir bus Batak yang menabrak orang di jalan, apakah kita menyalahkan semua orang Batak? Tentu tidak. Kalau ada orang Syiah yang mencaci Sahabat, tidak logis jika kita menyalahkan semua orang Syiah. Apalagi hanya berbekal internet dan social media yang informasi-informasinya sudah diramu sedemikan sehingga sesuai dengan interest si penyebar berita.

Percakapan singkat ini membuka kembali lembaran memori saya tentang diri saya sendiri. Selama 6 tahun ini banyak sekali peristiwa yang bersifat reflektif dalam hidup saya. Terutama sekali dalam hal pengalaman keberagamaan. Dulu, saya adalah orang yang berapi-api, maunya menang sendiri, dan merasa benar sendiri bila dihadapkan dengan apapun yang berbeda dari pemahaman saya. Saya selalu merasa tertantang untuk berdiskusi bahkan hingga berdebat. Ya, saya pernah menjadi orang dengan pemikiran yang ekstrem. Lacurnya, atau malah untungnya, ekstremitas tersebut masih –dan memang bercokol dalam domain– abstrak, sehingga benturannya hanya dengan ide-ide yang lain dari ide yang saya miliki. Meski pikiran saya ekstrem, tindakan saya tidak pernah menjurus pada hal-hal berbau intoleransi.

Dulu saya sinis melihat orang-orang berbaju gamis, bercelana cingkrang lengkap dengan jenggot semrawut dan dahi yang menghitam. Karena, dalam pikiran saya, mereka adalah orang-orang yang terlalu mementingkan kesalehan visual, eksklusif, dan suka membid’ahkan aliran Islam yang lain. Singkatnya, mereka tidak se-Islam seperti dalam imaji dan pahaman saya. Sikap mereka kepada saya pun tak jauh beda, ketika mereka sudah mencicipi diskusi bersama saya. Segera saja keluar sumpah serapah beserta tuduhan-tuduhan nyleneh, aneh, bahkan sesat dari mulut mereka. Padahal kami sama-sama Islam. Ternyata kesamaan nama agama tidak membuat diri kita otomatis ‘selamat’ dan dianggap saudara oleh sesama kita.

Waktu saya masih kuliah, pernah ada pesan singkat dari nomor tak dikenal yang isinya mengajak saya untuk hadir dalam acara pengajian. Awalnya saya ikut dengan harapan mendapat iluminasi, pencerahan. Ternyata pola pikir orang-orang dalam kajian tersebut sama sekali tidak ilmiah. Aktivis-aktivisnya sangat anti filsafat dan ogah mengkaji pemikiran tokoh bermazhab lain. Cukup manut pada guru ngaji yang kebetulan juga menolak filsafat. Akibatnya bisa diduga, mereka alergi dengan perbedaan pendapat. Padahal saya doyan bertanya dan membenturkan ide-ide yang berlainan. Akhirnya saya ‘diusir’ dari kelompok tersebut. Menurut saya, kelompok ini cukup aneh. Rata-rata orang di dalamnya pintar secara akademis. Kondisi hidupnya juga baik, bisa dibilang serba ada. Lalu kenapa mereka nyemplung di kajian yang justru membuat mereka tidak kritis?

Akhirnya saya mencoba memahami fenomena-fenomena ambiguitas keagamaan tersebut. Termasuk memahami pola keberagamaan diri saya sendiri. Sudah sepatutnya saya melihat ke dalam diri saya sendiri sebelum menilik orang lain. Kalau kata Lukoff, saya dan orang-orang tadi sedang menderita delusi psikotik, alias egonya kegedean, kagum dengan wahamnya sendiri. Sementara menurut Jerrold M Post, sikap arogan dan merasa benar sendiri adalah indikasi dari ‘luka narsistik’. Sikap yang tertutup dan anti-kritik. Hal ini tumbuh dari simplifikasi persoalan hidup keseharian karena ketiadaan rasionalitas. Atau mungkin, kami adalah penderita Bipolar. Kalau sudah menyukai, suka sekali. Kalau benci, bencinya setengah mati. Ekstrem! Hahaha…

Ekstremisme & Intoleransi

Ada banyak faktor yang jadi penyebab munculnya ekstremisme dalam benak kita. Salah satunya adalah anggapan bahwa yang kita pahami adalah mutlak benar, terutama informasi tentang agama. Saya cukup salut kepada teman SD yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Meski ia kesal, marah, emosional setelah mendapat info tentang Syiah, ia tetap berusaha mencari info pembanding dari saya, dan mungkin dari sumber lainnya. Ia tidak sampai memutlakkan pendapatnya sendiri.

Kita bisa ambil contoh ekstremisme dari diri saya sendiri. Beberapa tahun yang lalu, saya bisa sangat sinis melihat orang-orang berbaju gamis, bercelana cingkrang dengan jenggot ‘subur’ dan dahi gosong. Namun, bisa jadi sikap saya ini adalah selubung dari ketidaknyamanan saya dengan penampilan keberagamaan ‘yang lain’. Kalau saya ingin disebut moderat, tentu saya tidak perlu risih dengan penampilan orang-orang yang doyan sama fesyen ala Timur Tengah. Tidak masalah orang mau berpakaian ala apa saja selama ia merasa nyaman dan hal tersebut tidak mengganggu masyarakat dan ketertiban umum. Tapi, sekali lagi saya harus bersyukur. Meski waktu itu saya sinis, saya tidak sampai menyalahkan orang-orang tersebut apalagi mencap mereka sesat atau kafir. Karena sikap seperti ini adalah wujud intoleransi.

Kalau ekstremisme itu menyangkut cara pandang, intoleransi adalah produknya dalam bentuk sikap sosial. Ekstremisme itu misalnya, suka gula berlebihan. Itu ekstrem. Suka gula berlebihan bisa menderita diabetes. Dan biasanya semua ekstrem itu negatif. Suka garam berlebihan bisa kena darah tinggi. Jelas bahwa ektremisme itu abnormal. Nah, kalau intoleran itu artinya sulit atau tidak bisa menerima sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Sementara toleran itu artinya bisa menerima adanya perbedaan pada orang lain. Misal ada orang yang sulit menerima bila ada orang lain yang punya cara berbeda dengannya, berarti tingkat toleransinya rendah.

Munculnya intoleransi disebabkan oleh banyak faktor dan tidak semata-mata karena ekstremitas juga. Misalnya, boleh jadi ada orang yang ragu dengan keyakinannya kalau ada orang berbeda dengannya. Lho, jangan kaget. Ada banyak orang seperti ini. Mereka tidak terlalu pede dengan keyakinannya. Mereka ditimpa galau iman dan gamang keyakinan. Sebenarnya kalau orang itu tidak panik dan mantap dengan keyakinannya, meski ada yang berbeda, jungkir-balik pun dia akan kukuh terhadap keyakinannya. Ini baru dilihat dari salah satu sudut pandang saja.

Ada lagi yang lebih aneh kalau tidak boleh dibilang lebih lucu. Ada orang intoleran yang menganggap orang lain terlalu bodoh untuk memperoleh kebenaran. Menurut mereka, orang-orang yang berbeda dengannya itu berencana masuk neraka. Mereka merasa perlu menjadi juru selamat. Bahkan tidak jarang mereka merasa lebih dari itu. Menurut mereka Tuhan terlalu lemah dan tak bisa melindungi agama-Nya. Tuhan perlu dibela, dijaga, dan dilindungi. Orang-orang seperti ini tidak patut dimusuhi. Mereka harus dikasihani karena menderita waham semacam delusi mesianik.

Pahami, Jangan Menilai

Masalah ekstremisme dan intoleransi ini jika ditelusuri, akarnya adalah problem yang bersifat intelektual, epistemologis, dan boleh jadi psikologis. Selain memutlakkan pendapatnya sendiri, orang-orang intoleran tidak bisa membedakan kebenaran dengan keyakinan. Mereka tidak membedakan konsep dengan realitas. Mereka tidak membedakan ‘yang semestinya’ di benaknya dengan ‘yang menjadi fakta’ di luar dirinya.

Siapa saja yang tidak memiliki bekal pengetahuan, hatinya sempit, dan akalnya picik akan sangat mudah menjadi ekstrem. Pikiran ekstrem ini tidak hanya berhubungan dengan agama. Ia juga bisa muncul dalam hubungan sosial. Kalau kita tidak bisa berinteraksi dengan segala jenis manusia, berarti kita belum toleran.

Masalahnya, dalam persoalan agama, masih banyak yang memandang bahwa toleransi itu berarti menganggap orang lain benar. Kalau orang lain benar, berarti kita tidak benar. Kita jadi tidak konsisten terhadap agama kita. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang berlomba-lomba jadi pelaku intoleransi. Intoleransi dianggapnya sebagai ajaran agama. Padahal agama menyuruh kita komitmen terhadap ajaran kita, bukan menafikan hak orang lain untuk berbeda dengan kita. Toleransi bukan berarti membenarkan orang lain. Toleransi itu bisa menerima orang lain yang berbeda dengan kita. Sesederhana itu. Semangat toleransi adalah memahami, bukan menghakimi, merasa paling benar dan mengkafirkan orang lain yang berbeda dengan kita. Klaim kebenaran memang selalu jadi sumber perselisihan, bahan perdebatan, lahan pengkaplingan, dan piala yang diperebutkan sepanjang perhelatan sejarah manusia.

Pluralisme

Wujud nyata pluralisme barangkali adalah toleransi. Dari sudut pandang teologis, saya memahami pluralisme atau keragaman sebagai dimensi kasih Tuhan dalam citra manusia yang meluas ke segala unsur di alam ini. Pluralisme bukan dogma, dan tidak berhenti pada agama atau mazhab tertentu. Segala hal yang merupakan selain-Nya di wilayah konkret adalah fana dan terbatas sehingga sangat dimungkinkan kebenaran muncul dalam bentuk realitas mistis, teologis, dan sosial yang berbeda-beda. Kebenaran tidak bisa dikapling, dibatasi, atau ditelikung milik seseorang atau sekelompok tertentu saja, apa pun dalilnya.

Pada gilirannya, segala klaim kebenaran dan keakuan personal memang diuji dalam bingkai sejarah dan kemasyarakatan. Bahkan agama sebagai teks suci akan selalu berjalin-kelindan dengan realitas historis-sosiologis yang profan. Antara yang mutlak dengan yang relatif. Sebuah conditio sine qua non. Keberagamaan menjadi cita rasa kultural yang senantiasa berdialektika dengan rempuk kemasyarakatan, tergantung bagaimana kita mau memandangnya. Oleh karena itu, proses perenungan kembali, recharge dari segala aktivitas duniawi, serta pemaknaan ulang atas segala hal yang telah dikonsepsikan selama ini menjadi penting dan perlu kita lakukan terus menerus. Revolusi kesadaran yang tak pernah berhenti, senantiasa bergerak, berubah, dan menyempurna…

Sekilas tentang Layla Majnun

Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, saya ingin berbagi sedikit tentang kisah Layla Majnun karya Syaikh Nizām ad-Dīn Abū Muhammad Ilyās ibn-Yusūf ibn-Zakī ibn-Mu’ayyid, yang sering disalah-pahami sebagai kisah cinta biasa. Kita sudah terlalu sering terpapar cinta-cintaan ala Barat. Dalam memaknai sebuah karya berbentuk teks, kita juga sering “membunuh” sang pencipta teks. Kita jadi kehilangan pandangan terhadap konteks karya ini, yang tidak hanya berkaitan dengan situasi zaman Syaikh Nizām, tapi juga berkaitan dengan zaman kita. Penafsiran dengan cara demikan telah mereduksi makna dari karya ini, sehingga ia hanya dipahami sebagai kisah cinta biasa.

Kisah cinta Qais & Layla bukanlah kisah cinta biasa. Ia bukan cinta berselubung nafsu birahi sebagaimana yang sering terjadi diantara kita. Karya Syaikh Nizām ini berbicara mengenai cinta hakiki; sebuah alegori dari perjalanan seorang hamba menuju Tuhan.. William Shakespeare menulis kisah Romeo and Juliet untuk meniru keindahan kisah ini. Jalāluddīn Rūmī menjadikan karya ini inspirasi terpenting bagi karya monumentalnya, Matsnawi.

Konon, tak lama sesudah meninggalnya Majnun, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt ‘membelai’ Majnun dengan penuh kasih sayang dan ‘mendudukkannya disisi-Nya’. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil-Ku dengan nama Layla, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Layla yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Layla jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

Majnun adalah seorang hamba yang diperbudak oleh cintanya. Sedangkan Layla adalah seorang kekasih yang mendamba untuk dicintai. Majnun adalah seorang pencari cinta, sedangkan Layla adalah penunggu cinta. Majnun adalah budak cinta yang menghamba untuk diizinkan mencintai, sedangkan Layla adalah majikan yang tak sabar untuk segera dicintai. Bukankah semua ini cukup menggambarkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya?

Tuhan, seperti pernah dikatakan-Nya dalam sebuah hadis Qudsi, adalah Khazanah Tersembunyi. Ia ingin dikenal, maka Ia ciptakan semesta dan seisinya. Ia mencipta bukan karena butuh kepada ciptaannya, tapi agar Ia kelak dikenal dan dirindu—serta dicumbu—oleh ciptaan-Nya.

Semoga Allah selalu merahmati Syaikh Nizām dengan keluhuran karya beliau…

 

Petuah Sanubari

Berbahagialah yang merasa lemah, papa, tak berdaya, dan tidak cukup baik menghamba pada-Nya. Yang selalu butuh haribaan-Nya. Yang tak mungkin melanjutkan perjalanan tanpa suluh-Nya. Yang senantiasa menganggap dirinya terhimpit oleh timbunan dosa seraya mengharap ampunan serta welas asih dari-Nya…

Jangan merasa dirimu sudah baik hanya karena kau rajin beribadah. Ketahuilah, saat kau merasa baik karena ibadahmu, saat itu juga kau sedang berada di tepi batas antara keimanan dan kekafiran. Mudah bagimu merasa cukup dengan amalmu, tapi sulit sekali bagimu merasa cukup dengan duniamu.

Jangan tergesa-gesa menganggap dirimu tertimpa musibah, keburukan ataupun derita jika Dia mengambil apa yang Ia titipkan padamu. Mengapa kau perlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih? Ketika kau berdoa, kau minta titipan-Nya yang cocok dengan hawa nafsumu. Kau minta Dia membalas “perlakuan baikmu”, dan menolak keputusaan-Nya yang tak sesuai dengan keinginanmu. Padahal tiap hari kau ucapkan bahwa hidup dan matimu hanya untuk-Nya…

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan tiada beda / sama saja”,  (W.S Rendra)