Filsafat Pembebasan: Subjek Emansipatoris

emancipation-clipart-Emancipation-Day
http://www.clipartpanda.com/categories/emancipation-clipart

Dalam bukunya yang berjudul “The Fundamental Concepts of Metaphysics”, Heidegger mengutip ungkapan Novalis tentang filsafat: “Filsafat adalah sebuah kerinduan untuk pulang, urgensi untuk mendapati rumah di mana pun kita berada”. Ungkapan romantik Novalis ini menjadi titik tolak Heidegger dalam memulai konsepsinya tentang refleksi filosofis atau yg lebih dikenal sebagai refleksi fenomenologis.

Refleksi fenomenologis Heidegger beresonansi dengan kerinduan yang dimaksud oleh Novalis. Secara sistematis Heidegger memulainya dengan cara pengunduran diri subjek dari Kebenaran (Entzug).

Perasaan rindu untuk pulang mendorong kita untuk mencari rumah sejati. Meski, pencarian ini berangkat dari kesadaran bahwa rumah tersebut mungkin saja tak ‘kan kita temui. Pemikiran Heidegger ini kemudian bisa kita lihat pengaruhnya pada filosof pasca-strukturalisme seperti Foucault dan Derrida.

Pun Bayazid Bastami, seorang sufi abad ke-9 tercatat pernah mengatakan bahwa Kebenaran hanya bisa “ditemukan” dengan cara terus-menerus mencarinya.

Interaksi kita dengan “Ada” atau realitas, bagi Heidegger, berdasar pada fakta bahwa kita sebagai makhluk terbatas berkorespendensi dengan Dasein (”Ada”) secara terbatas pula, yakni sebagai individu dan atau solitary beings.

Destruksi metafisika yang dilakukan oleh Heidegger menciptakan konsepsi bahwa tak ada yang benar-benar mengerti tentang “Ada” sebelum bertanya tentangnya. Akses terhadap “Ada” yang dimulai melalui pertanyaan menunjukkan bahwa pengetahuan kita atas “Ada” berlangsung melalui ketidaktahuan tertentu.

Muhammad Taqi Misbah Yazdi, seorang filosof kontemporer Persia, menyatakan bahwa “Ada” atau Ontologi, hanya bisa diakses melalui Epistemologi.

Melalui ketidaktahuan itu, “Ada” menimbulkan pesona yang terhadapnya kita ingin mengerti namun tak pernah benar-benar mengerti.

“Ada” di sini tentu tidak bisa disamakan dengan ada-ada yang vulgar, semacam ada botol, atau batu itu ada. Ia bukan atribut atau predikasi, melainkan Eksistensi Sejati; Ada yang Mutlak.

Sikap merunduk di hadapan “Ada” ini pada gilirannya melahirkan penalaran yang bersifat puitik dan kontemplatif. Ia puitik karena momen “Ada” hanya bisa ditangkap melalui alētheia, ketersingkapan yang muncul dari kesadaran atas kefanaan di hadapan “Ada”.

Sejauh fenomenologi Heideggerian ini dipahami sebagai satu-satunya Ontologi post-modern yang mapan di Barat, menurut Slavoj Žižek, saat ini telah terjadi kekosongan di jantung ontologi politik. Žižek menganggap bahwa “imajinasi transendental” Heidegger tidak memberikan kerangka bagi aksi suatu subjek politis.

Fenomenologi Heidegerrian dianggap mengalami kebuntuan di hadapan problem-problem politik kontemporer: emansipasi vis-à-vis kapitalisme dan lain sebagainya. Agaknya, kritik Žižek ini muncul lantaran kesan sikap apolitis metafisika terhadap aktualitas emansipasi. Namun, benarkah demikian?

Menarik untuk melihat wilayah-wilayah tertentu di mana transendensi (misal dalam estetika dan sastra) justru melahirkan subjek yang militan (seperti Pablo Neruda, atau Pramoedya Ananta Toer), dan menjadi kerangka aksi bagi subjektivitas yang, dalam istilah Deleuze, imanen.

Bagi Deleuze, “kreativitas imanen” folding-unfolding-refolding, menggambarkan ketegangan dan dinamika internal imanensi vis-à-vis transendensi. Deleuze tak sepenuhnya menolak transendensi. Imanensi Deluezian ini lalu diradikalkan oleh Badiou demi asersi atas imanensi absolut sebagai lokus munculnya subjek emansipatoris.

Perdebatan seputar ontologi transenden vis-à-vis ontologi imanen sebenarnya bertolak dari kebutuhan mendesak akan subjek yang aktif dan emansipatoris. Refleksi filosofis, kalau tidak dianggap transendensi absolut, lacurnya, sering dipahami sebagai escapism atau pasivitas atas ketidakadilan dan eksploitasi yang nyata terjadi.

Kritik Žižek dapat dimaklumi karena, sebagai filosof Marxis kontemporer, gagasan materialisme historis adalah ontologi sekaligus aksiologi yang ia pegang teguh. Pada suatu kesempatan, ia dengan tegas menolak etika terhadap liyan.

Meski demikian, menarik untuk kita simak pendapat Žižek tentang pembalikan dari dialektika Marx ke Hegel dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Menurutnya, kondisi sekarang lebih mencerminkan dialektika Hegelian ketimbang Marxian. Žižek mengklaim bahwa Hegel jauh lebih materialis daripada Marx.

Barangkali semangat Žižek atau Badiou untuk segera menghadirkan subjek yang aktif, membuat mereka luput dari, atau malah secara sengaja, menafikan tujuan utama refleksi filosofis: yaitu pembebasan, yang dicapai melalui keterlibatan terus-menerus antara transendensi dengan imanensi.

Subjek emansipatoris justru secara logis lahir dari desentralisasi ego melalui penyingkapan realitas yang jauh lebih luas (transenden), yang dirinya merupakan bagian (imanen) dari keseluruhan realitas tersebut.

Subjek otonom berbekal pengetahuan yang berangkat dari nalar puitik dan komtemplatif, mustahil menggagahi “Ada”, karena sebagai subjek terbatas, dengan rendah hati ia mengakui bahwa setiap subjek sama terbatasnya di hadapan “Ada”.

Masing-masing subjek setara, otonom dan sama pentingnya. Segala bentuk penjajahan, ketidakadilan dan eksploitasi, dengan demikian menjadi absurd dan mesti dilawan!

Iklan

Filsafat Pembebasan : Negasi-cum-Affirmasi

emancipation-clipart-Emancipation-Day
http://www.clipartpanda.com/categories/emancipation-clipart

Sejak tahun 1960-an, publik mulai mengenal nama Derrida yang lekat dengan “dekonstruksi”. Dekonstruksi mempengaruhi pemikiran modern mulai dari filsafat dan literatur hingga arsitektur dan sinema. Lebih jauh lagi, Dekonstruksi menantang banyak asumsi dari filsafat abad pertengahan dan modern.

Ketimbang sebagai sebuah “metode”, dekonstruksi lebih kepada serangkaian asumsi tentang bahasa dan realitas serta segala sesuatu yang terjadi di irisan antara keduanya. Sebuah pendekatan terhadap realitas melalui konstruksi bahasa dalam berbagai bentuk novel, puisi, traktat filosofis, naskah pidato, dan lain sebagainya.

Derrida menjadi ikon dari post-modernisme dengan – apa yang dianggap banyak orang – anti-realismenya yang radikal, mengaburkan batas antara filsafat, sains dan literatur. Namanya tak luput dari kritik filosof kontemporer macam Alain Badiou dan Slavoj Žižek.

Dalam proyek filsafatnya, Badiou mencemplungkan “dekonstruksi” Derrida ke dalam keranjang yang ia beri label filsafat keterbatasan (philosophy of finitude). Badiou memahami filsafat keterbatasan sebagai antropologi negatif tentang keterbatasan manusia.

Baginya, semua filsafat yang beraroma Heidegerrian, termasuk hermeneutika, fenomenologi serta eksistensialisme adalah filsafat keterbatasan. Dari sinilah Badiou beralih ke filsafat ketakterbatasan (philosophy of infinity) yang menurutnya emansipatif karena menawarkan afirmasi terhadap ontologi materialis.

Derrida yang misterius menjadi subjek kontroversi, bahkan di kalangan pengkajinya, membuatnya tak mudah disimpulkan. Dekonstruksinya justru lebih sering disalahpahami sebagai nihilisme filosofis.  Dalam ungkapan lain, Derrida acap kali dipahami bukan Derrida.

Asumsi fundamental dari wacana Dekonstruksi adalah bahwa selalu ada sesatu “yang -tak-mungkin” tersampaikan dalam sebuah teks. Berulang kali Derrida mengatakan “kebenaran” sebagai sesuatu yang-tak-mungkin atau belum-mungkin. Kebenaran bukannya tak ada, tetapi ia tak mungkin kita capai dengan suatu rumusan yang mutlak tentangnya.

Asumsi dekonstruksi barangkali mengingatkan kita pada filsafat via-negatif yang muncul di abad pertengahan. Bahwa “yang-tak-mungkin” tersampaikan justru memberi ruang intelektual yang tak terbatas bagi penalaran yang serius. Dalam teologi filosofis, via-negatif menyatakan bahwa penggambaran kita tentang “Tuhan” tak ‘kan pernah mewakili Tuhan.

Via-negatif mirip dengan filsafat neti-neti (neither this, nor that) dalam ajaran Hindu. Ia mengingatkan kita agar tidak jatuh pada lubang konseptual tentang segala sesuatu yang sekilas nampak nyata.

Di dalam tradisi Islam, teolog-teolog Muslim berdebat sengit dalam mempertahankan transendensi Tuhan (tanzih) dari serangan antropomorpisme (tasybih). Aliran Mu’tazilah adalah contoh yang amat getol dalam membela transendensi absolut Tuhan.

Menggambarkan Tuhan sebagai sesuatu yang sepenuhnya “liyan”, bagaimana pun, berisiko memisahkan-Nya dari dunia yang kita anggap nyata dan kita alami sehari-hari. Transendensi mutlak menjadikan Tuhan sekadar “Prinsip Pengatur” tinimbang menjadikan Tuhan sebagai sosok Ilahiah. Ini adalah problem utama yang dihadapi oleh “Tuhan”-nya Aristoteles dan para pengikutnya.

Negasi murni, dengan demikian, tidak mencukupi. Pada saat yang sama, ia mesti dilengkapi oleh afirmasi. Contoh Negasi-cum-Afirmasi terdapat pada kalimat pertama syahadat dalam Islam: la ilaha illa Allah (Tiada ilah/Tuhan kecuali Allah).

Menyatakan “la” (tidak) tanpa “illa” (kecuali) tidaklah cukup. Beriman berarti menyatakan menolak tuhan-tuhan palsu serta segala bentuk hegemoni materialistik untuk kemudian menyerahkan diri atau berwilayah pada Tuhan Yang Esa. “La” menegasi, “illa” mengafirmasi. Derrida nampaknya terhenti di tahapan “la” (tidak)!

Ibnu ‘Arabi, seorang Sufi besar yang juga dikenal sebagai filosof dari abad ke-13, berargumen bahwa baik transendensi mau pun imanensi pada dirinya sendiri mengandung eror metafisik dan cacat teologis. Sebagai gantinya, ia mengajukan posisi yang ia sebut sebagai Pengiman Sejati yang melihat dengan “dua mata” (dzu’l-‘aynayn).

Dengan satu matanya, ia melihat Tuhan sebagai yang Transenden, Maha Suci, sublim dan sama sekali berbeda dari makhluk. Pada aras ini, Tuhan adalah mysterium tremendum. Ia di luar jangkauan pengungkapan dan penggambaran. Ia adalah Ilahi Yang Esa, yang semestinya disembah.

Di saat yang sama, pengiman sejati melihat Tuhan dengan matanya yang lain sebagai kehadiran yang intim. Di sini, Tuhan adalah teman sejati. Ia adalah episentrum gerak segala sesuatu. Para Sufi sering mengungkapkan-Nya dengan Cinta..

Bagi Ibnu Arabi, melihat dengan dua mata (transendensi-cum-imanensi) adalah cara yang membebaskan kita dari belenggu kenyataan-palsu sekaligus mengangkat kita untuk melebur dalam kenyataan yang Sejati.

Bukankah melihat dengan dua mata justru membawa kita pada jebakan dualitas? Tidak. Apa yang kita lihat dengan dua mata bukanlah sesuatu yang terpisah, melainkan sesuatu yang satu. Transendensi dan imanensi bukanlah realitas terpisah. Dengan dua mata, kita mampu melihatnya sebagai coincidentia oppositorum.

Melihat dengan dua mata berarti memandang segala sesuatu dengan berimbang/moderat. Ia menghindarkan kita dari fanatisme dan reduksionisme. Ia menyatukan sekaligus menghargai perbedaan.

Dekonstruksi Derrida di satu sisi menuntut kita, dengan rendah hati untuk mengakui kebenaran sebagai yang-tak-mungkin. Hidup adalah petualangan tanpa akhir menuju kebenaran. Namun di sisi lain, ia tak memberikan “rumah” bagi segala sesuatu yang ia bebaskan melalui Dekonstruksinya.

Seruan Derrida akan neti-neti adalah sebuah panggilan yang patut dihargai. Ia berjuang menolak klaim kebenaran hegemonik modernisme. Meski demikian, kita butuh lebih dari sekadar “tidak” untuk memaknai hidup ini..

 

Apakah Saya Seorang Feminis?

“Kak, kalo menurut kamu feminisme itu apa? Apakah kamu menganggap diri kamu seorang feminis?” Dyeeeng, pertanyaan dari kekasih saya ini merambat dengan merdu melalui medium udara menggetarkan gendang telinga saya. Kalimatnya terdengar jelas, dan menukik tajam dalam jiwa.

Sebelum menjawab pertanyaan darinya, saya mengambil jeda cukup lama. Ada beban tanggung-jawab moral dan ideologis jika saya menjawab pertanyaannya. Baik jawaban positif mau pun negatif. Agar tidak waton jawab, saya tanya diri saya sendiri saat itu; apakah saya betul-betul memahami “Feminisme” sehingga saya mampu menjawab pertanyaan tersebut? Tidak!

Ketidaktahuan saya atas sejarah munculnya Feminisme serta dinamika gerakannya menyebabkan saya rabun konteks, hingga akhirnya saya menjawab dengan agak cari aman. Supaya masih terkesan filosofis dan tidak kabur dari esensi, saya katakan padanya, bahwa saya seorang humanis.

Pemikiran untuk merenggut perempuan dari kebebasan serta hak yang melekat pada dirinya sebagai manusia yang merdeka sebagaimana laki-laki, itu tidak valid. Saya katakan hak yang melekat pada dirinya, justru untuk memberi batas diferensiasi, bahwa perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan laki-laki. Adil itu soal proporsionalitas. Bukan sekadar kesetaraan.

Bagi saya, humanisme sifatnya universal. Meski demikian, persoalan gender memang tak jarang luput dari analisa wacana kritisnya. Feminisme hadir untuk mengkritik sistem filsafat yang dijadikan acuan masyarakat, terutama rezim politik dalam menyusun kebijakan publik. Tak bisa dipungkiri, realita sejarah kita memang selalu berbau politis.

Sejauh pemahaman saya, jika agenda feminisme adalah perjuangan untuk membebaskan perempuan dari ketidakadilan, ketertindasan dan penjajahan, maka ia selaras dengan agenda humanisme.

Dengan bangga, akan saya katakan bahwa saya juga seorang feminis! Tapi saya tegaskan, saya bukan pembela mba-mba yang prefer bertelanjang dada di depan umum. Menjadi feminis tidak sedangkal itu. Kesetaraan gender memang sering jadi biang kerok salah perspektif. Poinnya ada di ketidakadilan!

Masih jamak terjadi ketidakadilan pada perempuan dalam berbagai level. Kita mungkin sering mendengar ungkapan, “Jeung, ngapain sih sekolah tinggi-tinggi sampe S3? Ujung-ujungnya cuma masak buat ngurus suami sama anak-anak di rumah.”, atau, “Jadi cewek itu kudu pinter masak, biar laku!”. Yang terakhir ini biasanya wejangan dari pinisepuh buat cewek-cewek yang beranjak dewasa. Hihihi…

Menyadari orientasi seksual sejak dini memang penting. Sayangnya, konstruksi sosial soal apa yang mesti perempuan lakukan dan apa yang mesti laki-laki lakukan itu amat kaku,  dan bagi saya, tidak punya dasar yang kuat. Salah satu contoh nyata persepsi keliru soal norma-gender, yang pada gilirannya malah menjadi sebab ketidakadilan, baik bagi perempuan mau pun laki-laki.

Menjadi seorang insinyur dianggap terlalu maskulin bagi perempuan. Mencuci dan memasak dianggap terlalu feminin bagi laki-laki. Urusan materniti selalu dibebankan hanya pada perempuan. Padahal laki-laki sebagai seorang ayah juga punya peran fatherhood di sini. Serta banyak anggapan lainnya yang berkembang biak di masyarakat kita.

Barangkali, nuansa patriarki yang dominan dalam perhelatan sejarah manusia membuat perempuan sering berada pada posisi inferior. Barat malah jauh lebih parah. Pada abad pertengahan, perempuan dianggap sebagai jelmaan iblis. Masalah ini memang diperkeruh oleh ragam penafsiran teks agama yang merendahkan perempuan.

Sungguh tidak keliru jika kita menyatakan bahwa hanya pada pengalaman perempuanlah seluruh praktik diskriminasi membekas. Selama ini, perempuan sering dianggap bukan dirinya..!

Kebebasan hanya perlu disadari. Tapi kemerdekaan perlu diperjuangkan. Setiap manusia mesti memerdekakan dirinya. Perempuan juga manusia, Bung!

Ya, pertanyaan kekasih saya memang demikian dahsyat sehingga membuat saya tergerak kembali membaca wacana kritis feminisme lalu membidani lahirnya tulisan ini. Ia selalu berhasil membuat saya mengalami “orgasme-intelektual” dengan ide-ide serta pertanyaan kritisnya. Belum lagi aktivitas sosial yang banyak ia lakukan. Ia merangkum seluruh alasan untuk membuat saya jatuh cinta padanya! Mulai dari hal fisik hingga meta-fisik. Duhai…

Lestarilah, Mega Ayu Lestari-ku..!

 

Menakar LGBT secara Adil dan Manusiawi

www.stopbullying.gov
http://www.stopbullying.gov

Isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, Transeksual) marak sekali belakangan ini. Terutama setelah undang-undang perkawinan sejenis dilegalkan di Amerika Serikat. Perkara ini sakjane bukan hal baru. Tahan dulu hasrat anda sebelum memutuskan untuk mendukung ataupun menghujat kaum LGBT hanya karena legalisasi nikah sejenis di Amerika. Jangan buru-buru reaktif. Mendukung karena hanya ingin dianggap humanis dan membela hak asasi manusia sama saja dengan omong kosong. Ada baiknya kita pelesir sejenak untuk melakukan pengembaraan historis, saintifik dan filosofis untuk menyikapi hal ini. TIdak perlu terlalu detil. Cukup ambil fakta penting untuk menyusun argumen lalu menentukan sikap kita.

Dalam kitab-kitab agama samawi dikisahkan tentang PERILAKU seksual yang menyimpang dari umat Nabi Luth. Perilaku berbeda dengan orientasi seksual. Orientasi seksual seseorang tidak meniscayakan perilaku yang sama dengan orientasinya. Ada orang yang merasa terlalu cantik untuk jadi laki-laki. Perilakunya seperti perempuan. Tapi belum tentu dia penyuka sesama jenis. Ada juga yang merasa terlalu gagah jadi perempuan. Dalam ilmu psikologi, ada istilah Body Dysmorphic Disorder (BDD). Sebagian perubahan orientasi seksual disebabkan oleh BDD – karena ketidakpuasan terhadap kondisi fisik. Salah satu tema penting dalam kajian psikologi adalah jiwa. Psikologi saintifik dan metafisik sama-sama membahasnya. Bagaimana manusia dapat disebut sebagai laki-laki atau perempuan? Apakah karena fisiknya atau karena jiwanya? Samakah jiwa laki-laki dan perempuan?

Perlu kita perhatikan, seks itu berbeda dengan gender. Seks bersifat biologis sedangkan gender bersifat sosial dan kultural. Kalau kata teman saya, gender itu socially constructed. Sebagian besar masyarakat di Indonesia memandang anda tidak cocok melakukan pekerjaan laki-laki jika anda adalah perempuan. Dari sinilah para pejuang kesetaraan gender bermunculan. Penting juga untuk membedakan homoseks, gay, orang yang berlagak banci dengan tujuan komersil, dan transeksual. Homoseksual adalah terminologi ilmiah untuk orang yang memiliki kecenderungan melakukan hubungan seks sejenis, baik sesama laki-laki ataupun sesama perempuan. Gay dan lesbian adalah istilah populernya. Sedangkan transeksual adalah istilah ilmiah bagi orang yang mengganti jenis kelaminnya melalui operasi.

Tidak seperti kaum gay dan lesbian, orang-orang transeksual justru mengkonfirmasi heteroseksualitas via ganti kelamin. Mereka berupaya menyesuaikan orientasi seksual dengan perilakunya. Ini tidak menafikan orang transeksual yang melakukan hubungan sejenis. Di Iran, negara memfasilitasi warganya untuk ganti kelamin via operasi. Namun fasilitas ini tidak didapat dengan mudah. Harus ada bukti secara medis. Pernikahan pun tetap dilakukan antara laki-laki dan perempuan.

Secara filosofis, hubungan laki-laki dan perempuan adalah hubungan mutual afirmatif, interdependen. Seperti hubungan antara atas dan bawah. Tanpa atas, tidak ada bawah. Tak ada laki-laki bila tak ada perempuan. Substansi laki-laki mesti ber-relasi dengan perempuan dan sebaliknya dalam konsep dan realitas. Dari fungsi primer kelaminnya, laki-laki berperan sebagai “pemberi” sedangkan perempuan berperan sebagai “penerima”. “Pemberi” hanya bisa tegak dalam konsep dan realitas dengan “penerima”. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, hubungan sesama “pemberi” dan sesama “penerima” adalah hubungan yang absurd. Pada kenyataannya, dalam hubungan homoseksual dan biseksual, salah satu pasangan memfungsikan tubuh dan alat kelaminnya sebagai “pemberi”, sedangkan yang lainnya sebagai “penerima”. Ada juga yang memaksakannya dengan menggunakan alat bantu. Perilaku ini justru mengkonfirmasi nature heteroseksualitas. Tanpa argumen agama dan norma sosial, kawin sejenis “dilarang” oleh rasio dan logika.

Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, homoseksualitas terbentuk karena dua sebab utama. Pertama karena kehendak sendiri. Bisa berawal dari iseng, pergaulan, bahkan pelarian. Yang kedua karena faktor-faktor di luar kehendak. Mereka perlu diberi jalan keluar yang logis, etis dan relijius, bukannya dicemooh atau malah dibantai. Dukungan terhadap kaum LGBT mewabah karena sikap mayoritas masyarakat dunia yang memandang LGBT itu hina. Bahkan ada yang menganggap kaum LGBT tidak layak hidup.

Lacurnya, sebagian kasus homoseskual malah terjadi di lingkungan relijius seperti pesantren. Miris sekaligus ironis. Lingkungan keagamaan yang idealnya memupuk akhlak dan moralitas justru menjadi arena jungkir balik moral. Sebagai muslim, menurut saya ada doktrin salah-kaprah tentang seks yang harus segera disikapi oleh umat Islam di Indonesia.

Agama kita terlanjur ditampilkan sebagai doktrin yang menganggap semua komunikasi dan interaksi pria-wanita sebagai sesuatu yang negatif. Dalam interaksi tersebut, baik pria maupun wanita diposisikan sebagai tersangka bersalah. Fokus hanya tertuju pada interaksi beda jenis. Karena hanya memperketat hubungan beda jenis, yang terjadi adalah respon yang salah terhadap stimulus sesama jenis. Baik sesama pria maupun sesama wanita. Kesalehan tidak diukur dari matinya respon terhadap stimulus objektif dari lawan jenis. Kesalehan lahir dari keteguhan dalam mengelola dan mengendalikan respon tersebut supaya tetap normal.

Disorientasi seksual sering terjadi karena pengabaian pubertas dan anggapan ekstrem tentang respon biologis anak terhadap lawan jenis sebagai hal negatif. Orang tua wajib punya wawasan tentang biologi dan gender. Mereka harus waspada sejak dini terhadap pubertas anak serta pola respon anak terhadap sesama jenis dan lawan jenis.

Barangkali transeksual bisa dijadikan solusi bagi mereka yang ingin mengukuhkan identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan. Misal ada seorang pria gay. Pada suatu waktu ia merasa dirinya adalah perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Terjadi disharmoni antara fisik dan jiwanya. Ia ingin mengganti kelaminnya. Jika secara medis (entah dari kromosom maupun bukti lainnya) ia terbukti memenuhi syarat untuk ganti kelamin, seharusnya ia boleh mengganti kelaminnya. Ia tidak layak lagi disebut gay.

Indonesia mungkin tidak bisa seperti Iran. Meski Indonesia dan Iran sama-sama menggunakan sistem demokrasi, penerapannya jelas berbeda. Di Iran, undang-undangnya berlandaskan agama Islam. Pengesahannya selalu melalui referendum dan tidak pernah disahkan secara sepihak oleh elit. Sedangkan di Indonesia, beragam corak faham, argumen dan kepentingan politis saling beradu di lembaga legislasi untuk menelurkan undang-undang. Tidak jarang adu argumen tersebut berujung pada adu jotos. Para elit di Indonesia jarang mau turun ke level akar rumput untuk melihat langsung dan memahami masalah rakyat serta mendengar aspirasi mereka. Undang-undang seharusnya menjadi patokan untuk mewujudkan ketertiban sosial.

Kalau negara mengatur ranah publik dan sosial melalui konstitusi, agama memegang peranan penting pada area privat. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, para teolog, ahli fikih, pakar psikologi, biologi, dan sosiologi di Indonesia perlu membahas isu ini. Opsi transeksual atau ganti kelamin perlu dikaji secara komprehensif oleh ahli-ahli yang berkompeten, bukan hanya agamawan, supaya bisa melahirkan hukum yang adil, relevan dan manusiawi.

Filsafat Hikmah: Sebuah Catatan Kaki tentang Filsafat Islam

Sekarang, orang makin tertarik mendalami filsafat. Ada begitu banyak orang yang sudah membaca ratusan buku filsafat. Mereka menghapal banyak istilah filsafat. Mereka tahu banyak tokoh filsafat. Tapi cara berpikirnya sama sekali tidak filosofis. Orang seperti ini jelas tidak layak disebut filosof. Informasi yang ia kemukakan bersifat ensiklopedis, bukan filosofis. Kita mengakui seseorang sebagai filosof karena cara berpikirnya yang filosofis, bukan karena tumpukan istilah filsafat yang kekar-kekar dalam ujarannya. Bahkan karena polemik istilah-istilah dalam filsafat, banyak orang yang menganggap filsafat itu ribet, elitis, angker dan terkesan horror. Filsafat adalah tentang kebijaksanaan, yang dalam terminologi Islam disebut sebagai ‘hikmah’. Hikmah itu simple, sederhana. Filsafat bertujuan mengabstraksi, melucuti semua status, atribut, predikat dan segala keruwetan. Makin sederhana maka makin dekat dengan filsafat. Makin njlimet justru makin jauh dari filsafat. Modalnya adalah berpikir logis. Modal ini sudah ter-install dalam diri manusia. Islam menyebutnya sebagai fithrah.

Lalu, setelah melucuti segala keruwetan, apa yang ditemui oleh filsafat? Apa yang hendak dicari oleh filsafat? Filsafat dalam Islam tidak seperti filsafat Barat yang kini ter-reduksi menjadi sekedar bahasan-bahasan esensial yang rasional. Di Barat, orang membahas moral atau etika secara rasional bisa disebut filosof. Filsafat Islam, sebagaimana pengertian klasiknya, dimulai dan beranjak, bahkan berputar di sekitar suatu konsep yang namanya ‘Wujud’ atau eksistensi (ontologi). Konsep yang namanya ‘Wujud’ ini badihi atau self-evident; suatu konsep yang benar dengan sendirinya. Tak perlu ada penjelasan dan tak bisa ada penjelas yang bisa menjelaskan ‘Wujud’. Sebagian orang mungkin akan kebingungan ketika membaca buku filsafat dengan mengajukan pertanyaan, “Ini argumennya mana?” Mereka berpikir bahwa penjelasan filsafat itu seperti fisika, atau dengan model matematika. Dalam filsafat, yang diperlukan bukanlah pembuktian. Tema-tema filsafat itu terbukti benar dengan sendirinya dan akal tak bisa mengingkarinya. Kalau akal mengingkari itu, gugurlah semua produk-produk akal.

Filsafat itu exactly the opposite of jahiliyyah. Jahiliyyah bukan kebodohan, tapi bodohisme; mazhab pemikiran yang mengagungkan kebodohan dan menjadikannya prinsip dalam hidup. Boleh jadi kita mengakui bahwa diri kita itu bodoh. Saya mengakui diri saya bodoh. Dan itu tidak mengganggu saya. Tapi menyembah kebodohan itu penyakit yang sangat berbahaya dan mengganggu. Terapinya adalah dengan terobosan-terobosan filosofis, berupa dorongan akal untuk mencari mana yang hakiki, mana yang palsu; mana yang realitas, mana yang waham.

Karena filsafat hendak mencari hakikat, maka ia adalah suatu aktivitas yang tak berujung. Kenapa? Batas akhir dari kebenaran atau hakikat itu adalah loose end. Hakikat tidak ada ujungnya. Siapa yang sudah pernah sampai di ujungnya hakikat? Kalau kita menilik sejarah filsafat, terutama perjalanan filsafat Islam, mungkin di satu sisi kita akan tersenyum, di sisi lain kita kebingungan. Sebetulnya, yang dipakai itu akal, intuisi, kebersihan hati, atau semuanya? Bahkan jika manusia menggunakan semuanya, ternyata ujung hakikat ini tetap tidak akan mampu dicapai. Maksimal yang bisa dilakukan adalah menghampiri atau mendekati hakikat.

Kita bisa mengamati perjalanan seorang Ibnu Sina sebagai contoh. Menurut saya, Ibnu Sina adalah filosof Peripatetik (masyya’iyyah) yang paling rasionalis. Ia adalah orang yang paling mengandalkan akal dalam upaya menempuh perjalanan menuju hakikat. Dan metode akal, seperti yang kita ketahui, adalah abstraksi, analisis; suatu konsep akan dikuliti sampai ketemu apa yang mereka sebut sebagai ‘esensi’ sesuatu. Tapi Ibnu Sina sendiri, dalam buku-buku logika dan filsafatnya, mengakui bahwa yang disebut dengan ta’rif tam atau ‘definisi sempurna’, yaitu suatu definisi yang bisa menemukan pembeda dan esensi sesuatu, itu tidak ada. Artinya, Ibnu Sina mengakui bahwa perjalanan rasional tidak pernah sampai kepada hakikat. Oleh sebab itu juga, pada akhir hayatnya, Ibnu Sina mengubah perjalanan rasionalnya menjadi perjalanan mistik. Ia menjadi orang yang lebih spiritualis daripada masa mudanya. Ia lebih banyak mengisi sisi-sisi ruhaninya. Kita tahu seorang Ibnu Sina dengan kecerdasannya, kejeniusannya dan produktivitasnya di bidang keilmuan, terutama logika dan filsafat, ternyata mentok pada suatu kesimpulan bahwa hakikat tidak bisa dicapai dengan sarana rasional. Tapi ini tidak berarti Ibnu Sina menentang rasionalis. Di sinilah bedanya Ibnu Sina dengan orang-orang yang sok bertasawuf, yaitu orang-orang yang sejak awal sudah cenderung menolak rasionalitas. Dalam perjalanan menuju hakikat, Ibnu Sina membetot rasionalitas sampai pada batas elastisitasnya. Pada titik akhir elastisitas rasionya, ia mengakhiri betotan tersebut karena takut rasionalitasnya putus. Kemudian ia bergerak dengan sarana yang lain. Kita layak melayangkan protes pada orang-orang yang sok mengadili filsafat dan menganggap filsafat lebih rendah dari apa yang mereka capai (yang mereka duga sebagai tasawuf). Padahal, tidak akan pernah sampai kepada tahap tasawuf orang yang tidak menggunakan kapasitas intelektualnya secara tuntas. Ini adalah kesepakatan para filosof muslim sepanjang sejarah.

Nyaris menjadi bahan tertawaan orang seandainya ada yang mengatakan, “tinggalkanlah logika dan filsafat, langsunglah masuk ke masalah hati, rasa dan lain sebagainya.” Ini hanya pernyataan dari sufi gadungan yang malas berpikir. Pakai dulu akalnya. Nanti akal akan sampai pada titik akhir elastisitasnya, dan akal akan menuntun kita untuk memakai sarana lain yang membantu kita menempuh perjalanan menuju hakikat. Oleh karena itu, filosof-filosof agung seperti Ibnu Sina, dan Syaikh al-Isyraq (Suhrawardi), setelah melalui kegelisahan pikiran dan batin yang luar biasa menyiksa, sampai kepada isyraq-nya.

Sebagai akibat dari karakter filsafat yang demikian, filsafat selalu mengalami ketegangan dengan bahasa. Ia selalu bermasalah dengan bahasa. Karena filsafat berpretensi membahas ‘Wujud’; suatu konsep yang saking jelasnya, tidak bisa lagi dijelaskan. Sesuatu yang tidak bisa lagi dijelaskan, bagaimana mau dijelaskan dengan bahasa? Di sinilah awal ketegangan antara filosof dan ahli bahasa. Jika kita membaca buku-buku filsafat, para filosof sering menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan atau proposisi-proposisi yang mereka gunakan dalam menjelaskan konsep-konsep itu besifat kompromistis (tasâmuhan, tajâwuzan, atau majâz). Bahasa tidak menyediakan tempat untuk membahas sesuatu yang disebut sebagai ‘Wujud’. Karena itu, akhirnya akal kita ‘menciptakan’ konsep mahiyyah (quiditas, esensi, keapaan) dalam rangka menjelaskan ‘Wujud’. Mahiyyah adalah santiran wujud yang ada di dalam benak kita. Ia bukanlah ‘Wujud’, tetapi pengertian kita tentang ‘Wujud’. Mahiyyah tidak riil. Sebagai cerminan, ia hanyalah sesuatu yang semu dan berbeda dengan objek yang dicerminkannya. Wujud tak bisa langsung dipahami dan tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan ‘Wujud’. Bagaimana menjelaskan diri? Sesuatu yang kita sadari dengan jelas namun sulit untuk dijelaskan atau dikonsepsikan. Diri justru melahirkan konsep-konsep melalui korespendensi dengan segala sesuatu selainnya. Dengan mencerminkan diri, kita akan melihat pantulannya. Kita mendapatkan gambaran diri. Gambaran inilah yang disebut mahiyyah. ‘Wujud’-nya adalah diri kita. Uniknya, gara-gara mahiyyah yang semu ini barulah kita bisa memahami ‘Wujud’. Atau dalam ungkapan yang lebih ringkas, kita memahami ‘Ada’ dengan ‘apa’.

‘Wujud’ dan mahiyyah bukan dua hal yang terpisah. Kebutuhan kita pada mahiyyah bukan pada mahiyyah-nya, tapi karena kita mau melihat ‘Wujud’. Tidak mungkin kita bisa langsung melihat ‘Wujud’ karena saking terangnya ‘Wujud’ itu, kata Sabzawari. Kalau mau dipahami dengan akal, akal menjadi silau. Kita mesti mencari pembanding. Inilah yang disebut dengan i’tibar; menciptakan atau mengkreasikan sesuatu sebagai pembanding, dalam hal ini adalah mahiyyah. Mahiyyah ini memang datangnya dari provokasi akal yang bertanya: “Apa itu?” Dan jawaban atas pertanyaan ini adalah jawaban antara, bukan jawaban sebenarnya. Karena jawaban sebenarnya dari ‘Wujud’ adalah kehadiran ‘Wujud’ itu sendiri. Kehadiran ‘Wujud’ tidak bisa dianggap sebagai suatu pengalaman bahasa. Ia tidak bisa diekspresikan ke dalam bentuk kata-kata. Misalnya, untuk menjelaskan manisnya madu, orang harus merasakan madu tersebut. Bisakah kita menjelaskan manisnya madu tersebut? Bisa saja. Tapi sehebat apa pun penjelasan kita tentang manisnya madu yang kita minum tetaplah itu bukan aslinya madu. Penjelasan kita hanyalah gambarannya.

Allamah Thabathaba’i, ketika menjelaskan apa pun yang berkaitan dengan filsafat, beliau mengatakan: “Lantaran ‘Wujud’ ini sesuatu (konsep) yang paling umum, maka seluruh predikat yang disandangnya adalah berasal dari dirinya sendiri. Seperti pernyatan: “Semua maujud qua maujud adalah satu dan aktual.” Yang satu dan aktual itu adalah predikat dari ‘Wujud’. Semua yang maujud secara eksternal adalah satu dan aktual.”

Jadi, tidak mungkin ada kata yang lebih umum dari ‘Wujud’ sehingga dapat merangkum ‘Wujud’ di dalamnya. Semuanya, kalau tidak berasal dari ‘Wujud’, adalah bagian darinya, atau lebih khusus darinya. Tidak mungkin ada predikat di luar ‘Wujud’. Misalnya, pernyataan: “Kausa itu adalah sesuatu yang maujud.” Meski kausa itu lebih khusus dari ‘Wujud’, tetapi kausa bukanlah aspek yang berada di luar ‘Wujud’. Jika tidak demikian, gugurlah asumsinya sebagai kausa. Kalau kita mau menjelaskan kausalitas, maka kita tidak bisa keluar dari melihat ‘Wujud’ sebagai ‘Wujud’. Dengan melihat ‘Wujud’ sebagai ‘Wujud’, kita akan bisa mengambil predikat. Bahwa, ada maujud yang berpredikat sebagai kausa, ada maujud yang berpredikat sebagai efek. Sebagian besar tema atau masalah filsafat (ontologi) berpijak pada klasifikasi. Subjek yang diklasifikasikan adalah ‘Wujud’. Bagian-bagiannya adalah predikat-predikat, keadaan-keadaan, prinsip-prinsip atau sifat-sifat dari ‘Wujud’ itu sendiri, bukan sesuatu di luar ‘Wujud’. Yang di luar ‘Wujud’ hanyalah mahiyyah. Tapi mahiyyah ini pun bukan sesuatu yang ada. Karena tidak ada sesuatu di luar ‘Wujud’. Yang ada hanyalah ‘Wujud’. Mahiyyah bersifat i’tibari. Ia hanya jembatan yang diciptakan akal untuk menuju kepada ‘Wujud’.

Dengan mendalami filsafat, implikasi yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran eksistensial. Selama ini kita terlalu sibuk dengan mahiyyah. Perhatian kita tersita oleh ‘penampakan’ atau cermin ‘Wujud’ (realitas). Kita terbiasa memandang segala sesuatu secara empiris dan positivistik sedemikian sehingga memunculkan anggapan bahwa yang riil hanyalah yang bisa diempiris. Kita menyangka bahwa realitas atau yang ada itu adalah segenap sensasi dan citra yang tertayang dalam benak. Selain sensasi dan citra tersebut, it doesn’t matter! Sedemikian pentingnya kedudukan materi sebagai satu-satunya kenyataan, sehingga kita menyebut selainnya adalah “bukan materi”.

Kini, tugas utama para filosof adalah menghadirkan cara pandang alternatif untuk mengatasi kegagalan pandangan dunia materialisme dalam mengatasi berbagai permasalahan. Memang bukan hal yang mudah. Karena dengan menganggap materialisme sebagai produk gagal, kita mesti mendekonstruksinya. Kita mesti meruntuhkan mazhab pemikiran yang selama ini terlanjur dipegang teguh. Artinya, kita akan berhadapan dengan hegemoni yang telah lama mencengkram dunia pemikiran dan tindakan manusia.

Kado Idul Fitri

sumber: beggal.heck.in
sumber gambar: beggal.heck.in

Bulan suci Ramadhan telah usai. Meski telah berlalu, sampai sekarang saya masih terbawa suasana puasa. Ketika melihat sekelompok orang makan bersama di warung menjelang bedug maghrib, saya mengira mereka sedang buber (buka puasa bersama). Berkat bulan Ramadhan, orang terarah untuk melakukan hal-hal yang baik lebih dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan ini selalu punya pengaruh positif. Ia senantiasa dinantikan oleh setiap orang, tidak hanya umat Islam, terutama sekali karena budaya mudik, sungkeman atau halal bi halal, dan lebaran kupat yang asli made in Indonesia.

Bicara mengenai sungkeman atau bermaaf-maafan, tentu bisa dilakukan kapan saja. Melalui sungkeman, kita dianjurkan meminta maaf atas perbuatan yang mungkin melukai hati orang lain, meski kita tidak merasa bersalah. Meminta maaf kepada orang-orang terdekat yang sangat mungkin dizalimi, terutama istri, suami, anak, dan orangtua adalah prioritas. Konon tradisi ini diajarkan oleh wali sanga kepada masyarakat di tanah Jawa. Raja Amangkurat I yang bergelar pangeran Sambernyowo adalah salah satu tokoh yang pertama kali mengenalkan budaya sungkeman di kerajaan Mataram pada abad ke-16. Ketika itu, raja dan abdi keraton menggelar acara untuk saling memaafkan. Ternyata hal tersebut diikuti oleh masyarakat sekitar keraton dan membawa pengaruh positif.

Pada gilirannya, hal ini menjadi kebiasaan dan meluas ke seluruh penjuru tanah air. Kini, hampir semua lembaga, kantor dan institusi rutin mengadakan halal bi halal selepas hari raya Idul Fitri untuk mempererat silaturahmi. Budaya ini telah sedemikian mengakar kuat di masyarakat sehingga menjadi identitas bangsa kita, tanpa memandang suku, ras, dan agama. Gusdur menyebut proses ini sebagai pribumisasi Islam, dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama. Tak dapat kita pungkiri, pribumisasi Islam inilah yang membentuk karakter Islam Indonesia yang lembut dan kaya akan khazanah esoterisme.

Tuhan Maha Pemaaf

Benarkah Islam mengajarkan umatnya agar memelihara sifat pemaaf? ‘Ibn Arabi pernah menyampaikan tentang makna tasawuf yang berarti: “proses mengaktualkan potensi akhlak Allah yang ada di dalam diri kita, dan menjadikannya akhlak kita” (al-takhalluq bi akhlaq Allah). Apa yang diutarakan oleh ‘Ibnu Arabi ini erat kaitannya dengan gagasan tentang manusia dan alam semesta sebagai manifestasi (tajally) Allah SWT. Salah satu sifat Allah adalah al Afuww yang berarti Maha Pemaaf.

Jika membahas sifat Ilahi rasanya terlalu berjarak bagi manusia biasa seperti kita, mari kita retas jarak tersebut dengan meneladani akhlak Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menyatakan: “Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim.” Dr Muhammad Iqbal mengatakan, “Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah Zahir-nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat dan pertolongan) antara makhluk dengan Tuhannya. Kalau kita ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri kita, hadirkan Muhammad. Jika kita ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Seandainya kita ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian” (Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah). Muhammad saw adalah episentrum cinta, laguna kasih dan suluh Ilahi.

Menanamkan akhlak Allah identik dengan menanamkan sifat cinta kepada Rasulullah saw di dalam diri kita dan menjadikannya sumber bagi setiap tindakan kita, baik dalam berinteraksi dengan Allah, manusia, maupun alam semesta.

Memaknai Hari Raya Idul Fitri

Dalam sebuah tulisannya tentang Idul Fitri, Dr Haidar Bagir mengungkapkan bahwa kata fitrah berasal dari akar kata f-th-r, yang berarti ”keawalmulaan sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada.” Sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa preseden (contoh). Sinonimnya adalah al-khalq atau al-ibda’. Contohnya, air susu yang pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai fithr. Fitrah adalah unsur manusia yang diciptakan pertama kali. Unsur manusia ini, tak lain dan tak bukan terbentuk atas model sifat atau ”tabiat” – yakni fitrah – Allah sendiri.

Menurut para ulama, fitrah identik dengan Celupan Allah (Sibghah Allah).1 Dalam ayat lainnya, Celupan Allah ini identik dengan peniupan Ruh Allah dalam ciptaan manusia.2 Pada surat Al-Rum ayat 30, fitrah manusia bukan sekedar merupakan perwujudan ruh Allah, tapi ia juga identik dengan agama itu sendiri, tepatnya ”agama yang lurus”. Suatu pandangan-dunia (weltanschauung) dan cara hidup (way of life) yang benar, yang berorientasi keimanan kepada Allah Yang Mahaesa, dan kepada kebenaran – suatu cara hidup yang hanif. Inilah unsur pertama fitrah. 3

Unsur kedua fitrah adalah pengetahuan mengenai jalan kebaikan dan keburukan yang telah diilhamkan kepada manusia sejak awal penciptaannya. ”Dan demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka diilhamkan kepadanya jalan keburukan dan jalan ketakwaannya. Pasti berbahagia siapa saja yang memelihara kesuciannya, dan pasti sengsara siapa saja yang mengotorinya.” (al-Layl 92 : 7 – 10).

Selama fitrah kita belum tertutupi kotoran-kotoran akibat perbuatan-perbuatan buruk kita, kita selalu dapat mengandalkannya dalam menuntun hidup kita agar selalu berada di jalan kebaikan dan keimanan kepada-Nya. Dengan kata lain, fitrah – yang selalu ada dalam diri kita – itu akan memberikan tanda kepada kita jika kita berbuat baik, dalam bentuk ketenangan hati. Sebaliknya, kita akan merasa gelisah jika kita melakukan perbuatan buruk.

Idul Fitri disebut hari raya jika puasa dapat mengembalikan kendali jiwa atas nafsu kepada kita. Sebagai hasilnya, menjadikan kita orang yang bertakwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya hanya bisa kita lakukan jika kita memiliki kesadaran bahwa Allah ada dan selalu mengawasi kita, sehingga kita akan terus berupaya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat mendatangkan ridha-Nya, dan menghindar dari perbuatan-perbuatan buruk yang dapat mendatangkan murka-Nya. Kata Imam ‘Ali, jika kita dapat menjalani setiap hari tanpa maksiat, maka setiap hari adalah hari raya.

Menjalani hari-hari tanpa maksiat bukanlah hal yang mudah. Bahkan dengan sikap hati-hati sekali pun kita bisa saja melakukan kesalahan. Apalagi kalau kita menjalani hidup ini secara serampangan. Meski pada awalnya nurani memberi indikasi perasaan bersalah dan tidak nyaman, kebiasaan buruk yang dilakukan terus menerus akan menutup akses kita kepada fitrah.

Nabi saw. bersabda : ”Dalam diri setiap orang ada segumpal organ (mudh-ghah). Jika baik organ ini, maka baiklah keseluruhan orang itu, dan jika buruk organ ini, maka buruklah keseluruhan orang itu. Organ itu adalah hati. Setiap kali orang beriman melakukan keburukan maka muncul bintik hitam di dalam hatinya. Dan makin sering dia berbuat keburukan, makin banyak bintik hitam di dalam hatinya.”

Jangan sampai kita terus membiarkan diri kita dikuasai oleh nafsu yang mendorong-dorong kita untuk berbuat keburukan (al-nafs al-ammarah bi al-su’), sehingga fitrah kita benar-benar tertutup dengan penyakit atau karat, seperti dikatakan dalam Al-Qur’an. Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang terkutuk, yang ”tuli, bisu, buta dan baginya tak ada jalan kembali.” (Al-Baqarah 2 : 18)

Memohon Maaf dan Taubat

Kita juga perlu menyadari bahwa setiap perilaku yang merusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan maaf. Sikap yang kita ambil membawa konsekuensinya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa lari dari hukum kausalitas. Siapa pun yang pernah kita zalimi bisa saja memaafkan kita. Namun, “jejak” kezaliman tersebut tidak dapat hilang begitu saja setelah kita memohon maaf. Kalau kita serius meminta maaf, kita wajib menebus kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Disebutkan bahwa setiap usai perang, Nabi saw bertanya kepada pasukan, “Adakah yang terkena sikut atau pukulanku dan menuntut qishash (balas)? “

Seandainya kita merampas hak seseorang sehingga ia kesulitan menghidupi keluarganya, maka kita wajib mengembalikan hak orang tersebut dan membantunya mengatasi kesulitan yang timbul karena perbuatan kita yang telah merampas haknya. Penebusan kesalahan ini juga diungkapkan oleh Imam ‘Ali ketika menjabarkan makna istighfar sebagai inti taubat.

Mengakui kesalahan sulit dilakukan jika kita memelihara sifat ‘ujub dan jumawa. Puasa sejatinya mampu merontokkan dinding “keakuan”, mempreteli narsisisme akut dan melembutkan nurani kita. Kadang meminta maaf, dengan mengakui kesalahan, baik yang disadari atau tidak, lebih mulia dari memaafkan.

 

1 “Dan apakah yang lebih baik dari Celupan (Sibghah) Allah?” (Al-Baqarah 2 : 29).

2 ”Maka, ketika Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu (para malaikat) dengan bersujud” (Al-Hijr 15 : 29)

3 ”Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah. (Tetaplah atas) Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus … ” (Al-Rum 30 : 30)

 

 

 

 

Menyibak Kontroversi Islam Nusantara

http://transbonja.deviantart.com/
http://transbonja.deviantart.com/

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan tiga orang teman di sebuah warung kopi. Kami sudah janjian lewat whatsapp untuk ngobrol santai soal “Islam Nusantara”. Isu yang sedang hot ini timbul-tenggelam berbarengan dengan legalisasi nikah sesama jenis di Amerika Serikat. Belum lagi maraknya kasus-kasus amoral yang diberitakan oleh media televisi kita. Pada hari itu, kami hanya fokus membahas “Islam Nusantara” – selanjutnya disebut IsNus.

Dua dari tiga orang teman saya agak gelisah dengan kontroversi IsNus yang kadung meruyak, terutama di media sosial macam facebook dan twitter. Agar tulisan ini lebih enak dikunyah, saya akan memisahkan dua argumen yang saling bertolak belakang ini: antara penentang IsNus dan IsNus itu sendiri.

Argumen Penentang IsNus

Para penentang IsNus umumnya beranggapan IsNus adalah varian atau sekte baru yang menggoyang pokok utama akidah Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi. Mereka bertanya pada para pendukung IsNus, “Kalau begitu Nabi Muhammad saw, para sahabat serta para imam madzhab itu menjalankan Islam apa ya?” Bila dituruti kemauan adanya Islam Nusantara, menurut mereka, berarti akan ada Islam Melayu, Islam Filipino, Islam Singapura, Islam Hongkong, Islam China, Islam India, Islam Kambodja, Islam Amerika, Islam Jerman, Islam Jepang, dan Islam lain lain.

Karena IsNus dianggap sebagai varian atau sekte baru, pertanyaan selanjutnya adalah: tokoh panutannya siapa? Kitab panduan lengkapnya apa? Dibuat tokoh Nusantarakah? Kalau tidak ada, lalu apa arti ‘himbauan’ untuk menjalankan Islam Nusantara? Kata mereka, daripada bingung sendiri, alangkah baiknya kita ber-Islam saja…

Mengenal IsNus Lebih Dalam

Jika kita telusuri, penentangan terhadap IsNus banyak yang bersifat reaktif, cenderung ikut-ikutan dan tanpa dasar yang jelas. “Islam” adalah subjek, predikatnya adalah “Nusantara”. Kegagalan memahami hubungan subjek dan predikat adalah bukti adanya problem epistemik.

Islam Nusantara atau Islam Indonesia adalah komposisi subjek universal & predikat universal dengan relasi interseksi/irisan. Frase “Islam Nusantara” bisa berarti “Islam yang Nusantara” juga berarti “Islam(nya) Nusantara” atau “Islam di Nusantara”. Bila Islam dianggap sebagai ajaran, ia bersifat abstrak. Karena itu, ia harus bersanding dengan sesuatu yang konkret supaya bisa diamalkan. Islam sebagai ajaran diyakini sebagai iman (ideal) dan mesti diterapkan sebagai amal (aktual). Aktualisasi iman perlu ruang konkret.

Islam sebagai ajaran adalah wahyu. Islam yang bersanding dengan “Nusantara” adalah penafsiran kontekstualnya. Ini aksioma. IsNus tak memuja-muja Arab atau ras lain seolah identik dengan Islam, juga tak menghina Arab atau ras lain seakan identik dengan kenistaan. Islam Nusantara adalah Islam universal yang diamalkan secara lokal dengan kesadaran kolektif yang terbangun melalui akulturasi, adaptasi, dialog dan sebagainya. Mendukung Islam Nusantara tidak berarti membenci atau menafikan selain Nusantara, tapi justru menghargai beragam Islam lokal yang dibangun oleh bangsa-bangsa lain. Islam yang diterapkan kapan dan di manapun pasti bersanding dengan ruang dan waktu. Ia pasti beradaptasi dengan karakteristik masyarakat di setiap wilayah.

Pada kenyataannya, memang ada Islam Melayu, Islam Filipino, Islam Singapura, Islam Hongkong, Islam China, Islam India, Islam Kambodja, Islam Amerika, Islam Jerman, Islam Jepang, dan Islam lain lain. Sifat adaptatif Islam dengan kondisi yang berbeda-beda sebagai ajaran yang bisa diterapkan di setiap tempat dan waktu justru mengkonfirmasi universalitas Islam. Ayat-ayat suci Quran pun ditandai dengan karakteristik tempat dan waktu berupa kategori “Makkiyah” dan “Madaniyah“. Ini menegaskan keniscayaan konteks.

Islam Nusantara bukan sekte baru. Bukan pula soal “menusantarakan Islam” seolah Islam “kalah” oleh budaya seperti yang disangka oleh kebanyakan penentang IsNus. Islam Nusantara adalah Islam yang dimaknai secara kontekstual dan rasional oleh Muslim yang cinta Indonesia. Gagasan “Islam lokal” adalah manifestasi syukur kepada Tuhan atas karunia agama dan budaya sebagai peradaban manusia dengan keragamannya.